212, Bukan Soal Angka

Oleh: Fahd Pahdepie

Mari kita perjelas sejak awal, 212 bukanlah ekspresi keagamaan, tetapi ekspresi politik. Reuni Akbar 212 yang baru digelar Ahad kemarin, juga tak bisa disebut sebagai ekspresi keagamaan, karena jelas itu merupakan ekspresi politik. Kalau agama terlibat di sana, ia menjadi generator, mesin penggerak, atau barangkali sekadar bensin yang memungkinkan mesinnya berlari, meraung, menggelegar.

Karena digerakkan oleh generator berbasis agama, dengan bensin ghiroh beragama, maka wajar pecikan-percikan yang timbul darinya juga memuat unsur-unsur itu: Ceramah agama, doa bersama, kehadiran para ulama, kibaran bendera tauhuid, teriakan takbir dan seterusnya. Semua itu tak bisa dipisahkan dari 212.

Bagi saya cukup mengherankan kalau ada pihak yang menginginkan atau menyebut 212 tak boleh dikaitkan dengan politik. 212 jelas lahir sebagai respons atas satu peristiwa politik, dikonsolidasi sebagai sebuah kekuatan politik, dan ditampilkan sebagai satu ‘pernyataan’ atau ‘ekspresi’ politik. Dan itu sah, boleh dilakukan di alam demokrasi.

Maka segala hal di sekitar 212 adalah juga politik. Dukungan terhadapnya adalah dukungan politik. Penolakan dan serangan terhadapnya juga sebentuk aksi politis. Tak ada yang salah dengan semua itu. Berkumpul untuk menyatakan pendapat adalah hak setiap individu yang dilindungi prinsip-prinsip demokrasi dan undang-undang yang berlaku.

Bagi pendukung 212, tak perlu berlelah-lelah mengklarifikasi bahwa 212 tak ada urusannya dengan politik. Bagi yang tak setuju dengan 212, tak perlu sewot juga juga menuntut 212 tak boleh berhubungan dengan politik. Karena itu tak mungkin. Bagaimana mungkin sebuah ‘statement’ politik tak berhubungan dengan politik?

212 adalah ‘statement’ politik kaum muslim urban. Mereka ingin mengatakan kepada publik bahwa ‘suara’ dan ‘aspirasi’ mereka tak bisa disepelekan. Bahwa mereka punya ‘power’. Bahwa mereka ‘signifikan’. Dan menghadirkan massa yang memadati Jakarta adalah ekspresi kolosal agar publik juga elit bisa mengkalkulasi secara adil seberapa besar kekuatan dan signifikansi mereka.

Kalau begitu, buat apa lagi berdebat soal angka-angka? Soal berapa jumlah persis peserta reuni akbar 212 itu? Benarkah jutaan atau hanya ratusan ribu saja? Semua itu tak penting lagi. Karena yang terpenting 212 sudah menunjukkan diri sebagai sebuah kekuatan besar, konsolidasi massa yang akbar, melalui satu pernyataan politik yang serba kolosal, yang barangkali sulit ditandingi pihak lain di negeri ini—dalam catatan sejarah yang cukup panjang.

Namun, mari bersikap adil dengan mengakui bahwa 212 adalah sebuah ekspresi politik. Politik dengan nuansa keagamaan, tentu saja. 212 tak bisa diceraikan dari politik. Tak bisa diseret menjadi semata ekspresi keagamaan atau luapan semangat keagamaan saja. Apalagi menjadi alat ukur bagi tingkat keberagamaan seseorang—dengan pengelompokkan bahwa yang mengikuti 212 memiliki level keimanan tertentu dan yang tak mengikuti atau menyetujuinya di-judge memiliki tingkat beberagamaan yang perlu dipertanyakan.

Selamat untuk kawan-kawan yang bergerak dengan 212. Ini gerakan yang besar. Sebuah kekuatan politik yang tak bisa disepelekan. Sebuah pencapaian sejarah. Apalagi digelar secara damai dan simpatik. Tapi, tentu saja ini bukan jihad. Ijtihad, barangkali.

Jakarta, 312

FAHD PAHDEPIE

Dapatkan info terkini:

0 Response to "212, Bukan Soal Angka"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus