Tiga Cerita Pilu dari Tsunami Sulteng

Gempa dan tsunami di Sulteng lebih dari cukup memberi peringatan. Manusia sama sekali tidak punya kuasa. Kecil sekali kita. Mikro malah.
Dan kita dalam genggaman-Nya. Seutuhnya.


Husain Rustang baru saja tiba di Palu, Jumat sore, 28 September. Bersama istri, anak-anak, mertua, dan keluarga lain.
Pukul 17.34, dia mengunggah status di Facebook. Ucapan terima kasih kepada sanak saudaranya yang rela menjemput dan mengurusi segalanya. Lima foto dipajang. Termasuk saat pesawat mereka baru saja parkir di Bandara Mutiara Sis Al Jufrie. Husain memakai jaket, topi, dan kacamata. Berfoto dengan tiga perempuan penting dalam hidupnya. Dua di antaranya bocah.

Husain dan rombongan dari Makassar sudah siap untuk sebuah resepsi pernikahan di Roa-roa Hotel.
Tidak ada yang benar-benar tahu cerita persisnya. Namun nama Husain kemudian muncul sebagai salah satu yang meninggal karena gempa. Tertimpa reruntuhan bangunan, begitu potongan kabar yang sempat saya baca. Konon dia masih sempat menyelamatkan istri dan anak-anaknya.

Di catatan BMKG, puncak gempa yang 7,7 SR kemudian direvisi menjadi 7,4 SR itu terjadi pada pukul 18.02. Artinya, hanya 28 menit setelah Husain mengirim status ke medsos.

Saya hanya berjumpa dengan beliau di linimasa. Namun rasanya cukup dekat. Kami saling berbalas komentar pada banyak status. Maka ketika kabar duka itu datang, saya merasa baru saja kehilangan seorang kakak.
***
Kuasa Allah juga yang membuat seluruh penumpang Batik Air ID 6231 tidak lagi di darat saat tsunami menghujam Palu. Itu pesawat terakhir yang terbang sebelum air bah datang.

Captain Mafella juga tak paham mendapat dorongan dari mana. Tidak ada yang tahu gempa akan terjadi. Pesawat yang dipilotinya itu seharusnya take off 17.55. Namun dia meminta izin kepada menara pengawas untuk terbang 17.52.

Dalam persiapan lepas landas, kabin bergetar. Mafella mengira itu gara-gara aspal runway yang tidak rata.
Namun begitu pesawat sudah di ketinggian 2.000-3.000 kaki, pilot baru menyadari, ada masalah di bawah sana. Menara tidak bisa dikontak. Rupanya, tower sudah hancur.

Mafella menatap ke laut. Ada yang aneh pada gelombang. Dia mengambil ponsel dan merekamnya, kira-kira 10 detik. Itulah tsunami yang sedang menuju tepian.

Saat musibah itu terjadi, Mafella dan ratusan orang yang duduk terikat safety belt di belakangnya, sedang dibawa Tuhan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros.
***
Lalu di grup-grup WA, termasuk di beranda Facebook, orang-orang silih berganti mengabarkan keluarga dan kerabat mereka. Ada yang selamat. Ada yang tidak tertolong. Ada anak-anak yang terpisah dari ibunya. Ada yang ponselnya tak kunjung aktif. Ada yang belum makan di perbukitan.

Kita membacanya dengan cemas.
Allahuakbar. Lahaulaquwwataillahbillah. Doa, doa, doalah yang banyak. Duka ini harus kita emban bersama. (*/dz)
—————————
Catatan: Beberapa jam setelah status ini dibuat, media online dan beberapa kawan mengirim lagi informasi duka. Anthonius Gunawan Agung, petugas menara bandara yang membantu take off Batik Air itu meninggal diterpa reruntuhan bangunan menara.

Dia menyadari ada gempa namun baru beranjak setelah memastikan pesawat sudah terbang dengan nyaman.
Anak muda hebat itu pergi setelah menyelesaikan tugasnya.

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Tiga Cerita Pilu dari Tsunami Sulteng"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus