Pengalaman Meraih Beasiswa Chevening

Oleh: Wayan Agus Purnomo (Wartawan Tempo)

Sewaktu SMP, saya membaca sebuah kisah keluarga pemecah batu. Keluarga ini menjadi pemecah batu dari generasi ke generasi. Setiap lelaki di keluarga ini secara alamiah mengikuti jejak ayahnya bekerja di sungai menjadi pemecah batu. Mereka terjebak kemiskinan struktural dengan penghasilan yang hanya cukup dipakai makan pada hari itu juga.


Hingga suatu hari, ada ada salah satu cucu dari keluarga ini yang diterima di universitas negeri. Setelah lulus, sang cucu ini menjadi pembuka jalan untuk lepas dari lingkaran setan pemecah batu. Sejak saat itu saya kemudian percaya, pendidikan adalah salah satu jalan terbaik untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Sejak lama sebenarnya saya punya cita-cita kuliah di luar negeri. Sebagai anak yang lahir di perkampungan, yang baru mengenal listrik ketika berusia 5 tahun, baru memegang ponsel ketika berumur 15 tahun, kuliah di luar negeri adalah perkara mewah. Apalagi untuk saya yang hidup tanpa modal, kecuali nekat dan keberuntungan-keberuntungan yang kerap menyertai.

Suatu kali, saya pernah berjanji pada diri sendiri untuk membagi pengalaman jika saya memperoleh beasiswa ke luar negeri. Saya ingin menunaikan janji itu. Sejak 10 September, saya resmi menjadi warga Glasgow, Skotlandia. Saya kuliah di University of Glasgow jurusan Political Communication dengan beasiswa Chevening, Pemerintah Inggris.

Beasiswa ini sangat kompetitif (ya, maksudnya, saya ini anaknya kompetitif hehehe). Ini saya ketahui setelah mengikuti Pre Departure Briefing pada akhir Agustus lalu di Kedutaan Besar Inggris. Untuk keberangkatan 2018, jumlah pelamar beasiswa ini lebih dari 4000 orang. Chevening memilih 68 dari Indonesia dan tujuh dari Timor Leste. Artinya, untuk mendapatkan satu tiket, pelamar beasiswa kudu menyingkirkan 52 orang lain.

Pertanyaan yang kerap muncul, apakah beasiswa ini memiliki sektor prioritas? Saya sempat menanyakan hal ini kepada perwakilan Chevening saat tes wawancara. Menurut dia, Chevening tidak memiliki sektor prioritas. Sepanjang jurusan yang dituju ada di kampus-kampus di Inggris, siapapun dipersilakan mendaftar.

Informasi lain yang saya baru ketahui adalah, beasiswa ini tidak mengenal sistem kuota. Yang terpilih adalah mereka dengan ranking terbaik setelah tes wawancara. Benar-benar menerapkan merit sistem. Buktinya, tahun ini ada tiga wartawan Tempo yang lolos secara bersamaan.

Dibandingkan dengan beasiswa lain, proses administrasi Chevening relatif lebih gampang. Saat mendaftar, kita tak diwajibkan menyertakan nilai IELTS dan surat penerimaan dari kampus di Inggris. Surat rekomendasi juga baru diserahkan setelah kita lolos tahap wawancara. Namun, dua nama pemberi rekomendasi sudah mesti disetor saat mengunggah aplikasi.

Saya memperoleh beasiswa Chevening setelah dua kali lamaran. Ini belum termasuk saya gagal dua kali melamar Australia Awards dan sekali melamar Fulbright. Tahun 2016, semua aplikasi saya gagal total. Masuk ke tahap wawancara pun tidak. Setelah empat kegagalan itu, saya kerap merenung jangan-jangan saya memang nggak layak. Dan ini serius, butuh waktu agar kembali bisa percaya diri.

Saya meminta saran dari sejumlah orang mengenai esai aplikasi saya. Menurut beberapa kolega, esai saya terlalu bertele-tele, mengawang-awang, tidak jelas fokus apa dan rencana kerja saya bakalan ke mana. Berangkat dari evaluasi itu, saya mempersiapkan esai dengan lebih matang dan berdiskusi dengan lebih banyak orang.

Separuh kaki saya di beasiswa ini karena berkat bantuan sejumlah orang. Misalnya, atasan saya di kantor, Kak Philipus Parera yang mengoreksi dan memperkaya ide-ide esai saya. Kemudian, ada Azelia Trifiana kawan saya di Metro TV yang membantu memperbaiki grammar saat mencari sekolah. Kemudian Margareth Aritonang yang bersedia menghaluskan esai saya sehingga lebih layak enak dibaca.

Esai merupakan elemen penting dalam seleksi Chevening. Sebab dia akan menjadi penentu apakah kita lolos ke tahap wawancara atau tidak. Kabarnya, Chevening hanya memilih 200-300 orang di tahap seleksi wawancara. Kalau ada 4.000 pelamar, berarti rasionya 1:40.

Karena itu, esai kita mesti punya karakter kuat dan keunikan. Bagaimana memadukan antara pengalaman kerja, kapasitas personal, rencana sekolah dan karir ke depan. Yang tak kalah penting untuk diingat, Chevening mencari pemimpin di setiap bidang pelamar. Karena itu, tonjolkan kemampuan dan kapasitas kita sebagai pemimpin dan juga calon pemimpin.

Ada empat topik yang mesti diisi saat melamar beasiswa ini yakni leadership, networking, kenapa memilih tiga universitas di UK, dan rencana karir.

Leadership

Saya mencantumkan beberapa pengalaman kepemimpinan saya selama menjadi mahasiswa. Sebaiknya kita memberikan satu contoh mengenai pengalaman kepemimpinan yang paling krusial. Tidak mesti yang heboh tetapi yang sederhana namun bisa menunjukkan kualitas kita sebagai seorang pemimpin.

Misalnya ceritakan pengalaman kita sebagai pemimpin, posisinya apa, tanggung jawabnya apa, permasalahan yang pernah dihadapi apa serta apa strategi untuk mengatasi persoalan itu. Semakin tajam dan konkret contoh yang disampaikan, maka esai kita juga bakalan semakin memikat.

Networking

Salah satu kekuatan Chevening adalah jaringan yang dimiliki. Di seluruh dunia, ada ribuan orang yang terkoneksi lewat Chevening. Sebenarnya seseorang yang terlatih di organisasi secara alamiah juga akan membangun jejaring dengan banyak orang.

Di bagian ini, menurut saya penting buat kita untuk menunjukkan bagaimana pengalaman kita membangun jaringan. Saya menekankan soal jaringan yang saya bangun sejak menjadi jurnalis politik tujuh tahun lalu. Siapa saja jaringan saya dan bagaimana saya memanfaatkan jaringan tersebut untuk menunjang pekerjaan. Saya juga menekankan mengenai apa yang bakal dilakukan saat menjadi bagian dari komunitas Chevening.

Tiga universitas di UK

Saat mendaftar, kita mesti sudah mengetahui tiga universitas yang bakal kita tuju. Kita bisa memilih kampus di empat negara yakni England, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara yang merupakan bagian dari kerajaan Inggris Raya.

Kunci penting dari esai bagian ini adalah riset. Mengapa kita memilih tiga kampus itu? Karena mata kuliahnyakah? Karena risetnya? Karena profesornya? Dulu saya mencantumkan silabus di jurusan saya sebagai alasan memilih tiga kampus. Bahwa mata kuliah itu berguna untuk menunjang karir di masa depan.

Rencana karir

Saya membagi rencana karir menjadi tiga tahapan yakni jangka pendek, menengah, dan  panjang. Karir yang dimaksud di sini bukan melulu mengenai posisi tetapi lebih tentang tanggung jawab seperti apa yang dibayangkan dalam beberapa tahun ke depan.

Meski ada empat topik terpisah, kalau esai ini digabung hasilnya adalah tulisan yang runut, mengalir, enak dibaca dan perlu. Kalau menurut kalian masih ada yang ngejeglag dan jomplang, berarti mesti ada yang diperbaiki di esai tersebut.

Deadline beasiswa ini adalah 6 November. Sebaiknya hindari mendaftar menjelang tenggat. Semoga penjelasan saya ada manfaatnya.

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Pengalaman Meraih Beasiswa Chevening"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus