Melawan Lupa: Pengkhianat G-30-S/PKI - (7)


AIDIT TERTANGKAP DI SOLO, 22 NOVEMBER 1965

Oleh: Saiful Bahri

Penumpasan G-30-S/PKI di kota Solo dan sekitarnya (dulu disebut eks karisidenan Surakarta) tidaklah secepat di Jakarta. Sebab kota Solo termasuk salah satu “kota PKI” di Jawa Tengah. Pada tanggal 4 Oktober 1965, Aidit ketua CC PKI, dalam rangka melarikan diri dari penangkapan di Jakarta, melarikan diri ke Solo sekaligus mengkonsolidasikan perlawan PKI terhadap TNI dan umat Islam yang sudah ingin segera mengganyang kaum komunis.


Saya, meski masih berusia 6-7 tahun, menyaksikan bagaimana banyak kejadian menegangkan di Solo: Toko Obral di Singosaren dibakar, pasukan RPKAD (sekarang Kopasus) melatih tempur para pemuda di lapangan Kartopuran, Wali Kota Solo Oetomo Ramelan diseret dan dipepe di jalan beraspal Selamet Riyadi, tetangga saya anggota PKI diciduk dan jari kakinya dipukul dengan batu, ribuan tahanan PKI dikumpulkan di Sasanamulya Baluwarti, dan yang membuat saya sekarang masih ngeri: dua anggota PKI kebetulan keturunan Cina disembelih lehernya dan mayatnya dibuang di kebun kosong depan rumahku.

Meski kota Solo menjadi pilot project perlawan PKI di Jawa Tengah, tetapi karena orang-orang PKI itu merasa serba salah, maka semua langkah mereka gagal, dan Aidit ditangkap di Kampung Sambeng Gede, belakang Stasiun KA Balapan pada 22 November 1965. Esok harinya dia ditembak mati di Boyolali. Kematian Aidit, merupakan momentum terakhir perlawan PKI di Solo, yang ada hanya tinggal tikus-tikus Gunung Merapi-Merbabu yang dengan gampang ditumpas oleh tentara dalam bulan Desember 1965.

Mengapa orang Solo, dulu, banyak mendukung PKI? Kita menengok sedikit secara antropologis. Orang Solo dibedakan antara priyayi dan wong cilik, begitu juga antara santri dan abangan. Nah, PKI ini kebanyakan adalah wong cilik yang abangan (atau dibalik abangan yang wong cilik); sedang para priyayi biasanya mendukung PNI, dan kaum santri (yang priyayi maupun wong cilik) mendukung partai Islam. Kaum priyayi tidak mau dekat komunis, sebab mereka nanti tidak dipanggil raden atau ndoro lagi, seperti kebiasaan orang PKI memanggil temannya: “Kawan Aidit, kawan Nyoto, dan lainya”. Begitu juga kaum komunis tidak mungkin dekat kaum santri, sebab mereka tidak shalat dan puasa (apalagi haji). Pada waktu itu, perbedaan-perbedaan itu kentara sekali dan sangat berbau politis-ideologis.

Namun karena orang Solo, atau daerah Jawa lainnya, adalah masyarakat paternalistik yang kental dengan budaya wayang; maka ketika PKI melakukan pembunuhan para jenderal (dan tidak direstui Presiden Soekarno), maka orang Jawa langsung menganggap kaum komunis dalam budaya wayang sebagai “Bala Kurawa” (jahat). Kebetulan PKI ditengarai sebagai kaum kiri, dalam tatanan pedalangan wayang kulit, pihak Kurawa (batil) wayangnya diletakkan (ditancapkan) di kiri dalang, dan pihak Pandawa (benar) di kanan dalang.

Jadi perlawanan rakyat kepada kaum komunis ini bisa begitu cepat karena PKI telah menabrak berbagai batasan politis-yuridis, dan sekaligus berlawanan secara budaya. Efeknya apa? Saya merasakan, setelah PKI dibubarkan dan paham komunisme dilarang, maka saya lihat di kota Solo tidak ada lagi orang abangan. Masjid penuh pada saat shalat Jumat, sebab kalau tidak shalat Jumat mereka takut dituduh PKI. Dan sebetulnya, mengapa orang abangan tidak shalat? Hal ini terjadi karena kurangnya dakwah kepada mereka, jadi mereka tidak shalat karena betul-betul tidak tahu apa bacaan shalat itu, sementara mereka sudah dikelompokkan dan dicap sebagai orang abangan. Jadi mereka itu illeterated (tidak bisa baca bacaan shalat). Mereka dalam sehari menganut adat yang mereka ketahui secara lisan turun-menurun, seperti selametan dan percaya dukun, serta lainnya.

Setelah Orde Baru, dengan diwajibkan pelajaran agama bagi semua siswa sampai mahasiswa, maka khusus kaum muslimin minimal mengenal bacaan shalat, rukun Islam, rukun Iman, dan pengetahuan dasar keislaman lainnya. Sedang bekas PKI atau keluarga PKI yang tidak mau menjadi orang Islam biasa (seperti santri), lalu pindah agama. Mereka tidak tetap menjadi muslim karena gencarnya kristenisasi pada waktu itu, di samping juga karena balasan kaum Muslimin kepada PKI sangatlah keras. (sebaliknya dulu, ketika PKI jaya, kaum komunis juga memperlakukan umat Islam dengan aksi sepihak secara kejam). Terbukti sekarang, kaum Nasrani di Solo hampir mencapai 30%, termasuk jumlah yang sangat banyak dibanding dengan kota-kota lain.

Kisah Penyembelihan

Waktu itu, pagi sekitar pukul 05.30 saya bersama teman-teman saya mencari jangkrik di kebun Pak Sis. Pertama lewat jalan itu kami tidak melihat sosok dua mayat itu, tetapi setelah kami pulang lewat jalan lain, di rumah sudah geger memberitakan ada dua “Babahe Cino dibeleh”. Kami menuju tempat itu lagi, dan betul darah berceceran dari leher mereka di celah tutup daun pisang. Korban adalah bapak dan anak, dan dari saku si bapak tercecer uang ratusan ribu.

Menurut cerita orang tua, uang itu untuk menyogok si algojo, tetapi si algojo tidak tergiur sedikit pun. Pagi itu saya jadi neg, tidak doyan sarapan, dan saya minta cepat-cepat diantar ke sekolah, supaya tidak mengingat kejadian mengerikan itu.
Masih kata orang tua dulu, kejadian ini membuat Radio Peking (Baijing, RRC) siaran Indonesia marah-marah dan protes keras, karena merasa warganya diperlukan dengan kejam di kampung saya (meski yang menyembelih bukan warga kampung saya)! Coba, kampung saya masuk Radio Peking siaran luar negeri!!

Lalu siapa yang menyembelih dua Babahe Cino itu? Sampai sekarang saya tidak tahu. Katanya, itu dilakukan pemuda Laweyan, tetapi setelah didesak, saksi tidak yakin. Dia hanya mengira-ngira. Dia mengisahkan, ketika malam kejadian, dia bertugas ronda di kampung Kartopuran (kampung saya). Kemudian sekitar pukul 03.00 ada beberapa pemuda minta air karena kehausan. Mereka membawa kelewang dan pedang. Terlihat seperti baru saja bertempur, karena muka dan badannya basah bermandikan peluh. Ketika ditanya, mereka tidak jelas mengaku dari mana, tetapi para pemuda berkelawang itu bisa menjawab bahasa sandi jaga malam (jadi disimpulkan itu “orang kita” sendiri).

Lalu mengapa Dua Babahe itu dibunuh? Analisa orang tua dulu, bapak dan anak itu anggota PKI. Si bapak adalah bendahara PKI di daerah saya, dan memang keluarga itu dikenal sering membantu kegiatan PKI. Istilahnya “keluarga PKI” berefek hingga jauh hari dari kejadian itu. Saya menyaksikan sendiri, setiap ada kerusuhan anti-Cina di Solo, rumah Babahe di Jalan Honggowongso itu selalu menjadi sasaran amuk massa. Massa yang marah itu seperti terpuaskan kalau sudah merusak rumah Babahe itu. Terus terang saya heran, kok sampai ‘segitunya’?
Generasi muda sekarang, tentu saja dengan persepsi sekarang, mungkin menganggap perbuatan itu kejam. Namun pada saat saya mengalami kejadian itu, yang saya rasakan sebagai anak kecil hanya perasaan ngeri saja, sedang pendapat umum waktu itu menganggap sesuatu yang wajar kalau si pemberontak dibunuh.

Mengapa? Karena mereka dalam keadaan perang, dan berada pada posisi dibunuh atau membunuh. Kalau sekarang karena keadaan sudah aman, pasti dihujat: kok melanggar HAM, kok tidak diadili dulu, kok ....? -- (Saiful Bahri).
(Bersambung: “CORNELL PAPER KARYA TULIS YANG KEKANAK-KANAKAN DAN SARKASTIS?”)

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Pengkhianat G-30-S/PKI - (7)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus