Melawan Lupa: Pengkhianat G-30-S/PKI - (6)


DIRENCANAKAN TAHUNAN, RONTOK DALAM 3 HARI

Oleh: Saiful Bahri

Dalam pemikiran Marxis tidak ada kekuasaan yang turun dari langit, semua harus direbut sendiri oleh kaum komunis dari lawannya. Karena itu, konsekuensinya tidak ada yang bersifat kebetulan dalam revolusi komunis. Mereka tidak percaya Tuhan, sehingga perbuatan makar bagi mereka adalah hak dan kewajiban, tidak mengenal larangan dan dosa. Namun sepandai-pandainya kaum komunis membuat makar, masih lebih baik (atau paling baik) makar dari Allah SWT.


Gerakan 30 Sepetember 1965 yang dilancarkan PKI hanya dalam beberapa hari sudah rontok tertumpas oleh TNI dan kaum muslimin. Rencana yang sudah matang untuk menculik para jenderal pada 1 Oktober 1965 tidak semua berhasil, sebab dengan lolosnya Pangab Jenderal Nasution, kemudian merapat ke Kostrad, maka Aidit sebagai pemimpin tertinggi G-30-S/PKI sudah merasakan kegagalan itu, sehingga dia dinihari (2 Oktober 1965) melarikan diri ke Yogyakarta.

Jenderal Soeharto sebagai Pangkostrad, didukung Pangdam Jaya Jenderal Umar Wirahadikusuma, Jenderal Nasution, serta jenderal lainnya langsung merapatkan barisan dan mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Sebab tentara waktu itu banyak berada di luar Jawa, yaitu di Sumatra dan Kalimatan untuk menghadapi Konfrontasi melawan Malaysia, dan di sekitar Irian Barat untuk perjuangan membebaskan Irian Barat dari Belanda. Dua front ini memang buatan PKI dan anteknya, supaya kekuatan di Jawa kosong, sehingga PKI dan anteknya akan dengan enaknya menguasai Jakarta dan daerah lainnya.

Untungnya, RPKAD (sekarang Kopasus) masih utuh dan Kolonel Sarwo Edhie (mertua SBY) sebagai komandan siap di markas. Begitu juga ada beberapa bataliyon Kujang dari Siliwangi loyal kepada NKRI. Dua pasukan itulah yang utama menumpas G-30-S/PKI. RPKAD dalam sehari saja sudah dapat menguasai RRI/TVRI dan instalasi penting lainnya. Begitu juga pasukan Kujang, masih sesuai dengan reputasinya dulu sebagai pasukan penumpas Pemberontakan PKI Madiun 1948, menggilas G-30-S/PKI di luar Jakarta.

Ironis sekali, sebuah pemberontakan yang direncanakan lama dan melibatkan ribuan manusia serta harta benda, hanya digulung dalam tiga hari. Ini mengulangi pengalaman lama ketika PKI memberontak pada tahun 1926/1927 dan tahun 1948 yang ditumpas hanya dalam waktu yang hampir sama, sekitar tiga hari. Memang penyelesaiannya agak panjang karena melibatkan rakyat banyak, tetapi titik pusat gerakan pemberontakan itu sudah dapat dihentikan relatif hanya dalam tiga hari saja.
Mengapa Jenderal Soeharto dan kawan-kawan begitu cepat bisa menggulung G-30-S/PKI. Pertama, lolosnya Jenderal Nasution dari penculikan, sehingga TNI-AD langsung dapat menebak dalangnya.

Sebab waktu itu, hanya ada tiga kekuatan yang diperhitungkan, yaitu TNI, PKI, dan Presiden Soekarno. TNI tidak mungkin mencurigai Presiden Soekarno sebab Soekarno memang memegang kekuasaan, tetapi tidak langsung bisa memiliki pasukan tempur sendiri. Kalau dari kalangan TNI, jelas tidak mungkin, sebab akan segera diketahui Pangad Jenderal A Yani dan lainnya. Nah, tinggal PKI yang memungkinan, yaitu dengan cara “Lempar batu sembunyi tangan”. Namun di atas semuanya, Tangan Tuhan telah bergerak menyelamatkan bangsa ini dari rongrongan kaum komunis.

Ada posisi kontroversial dalam diri Presiden Soekarno. Mengapa waktu itu, 1 Oktober 1965, dia pergi ke Markas Pemberontak di Halim Perdanakusuma? Mestinya, kalau sudah tahu bahwa PKI dan tentara-pengkhianat yang menjadi dalangnya, Soekarno bisa langsung memerintahkan penangkapan para pemberontak? Mungkin Soekarno mengalami kebingungan hebat, sebab dalam banyak tulisan sejarah, dia menolak mendukung PKI, tetapi tidak memberikan tindakan tegas kepada pembunuhan para jenderal itu.

Setelah diketemukan jasad mati para Jenderal di Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965, maka mata rakyat terbuka. PKI langsung menjadi sasaran kebencian rakyat dan dalam waktu singkat telah menjadi musuh masyarakat. Namun di luar Jakarta, waktunya penumpasan tidak secepat itu. Baru beberapa bulan kemudian TNI, khusus RPKAD dan tentara loyalis lainnya menumpas PKI di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan kota-kota lainnya di Indonesia.
Puncaknya, dibubarkannya PKI dan dinyatakan sebagai partai terlarang oleh MPRS pada tahun 1966. Hal tersebut juga membawa jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno karena tidak mendapat kepercayaan lagi dari anggota MPRS. -- (Saiful Bahri).

(Bersambung: “Penumpasan PKI di daerah, Kasus kota Solo”).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Pengkhianat G-30-S/PKI - (6)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus