Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (5)


MEREKA BERPESTA PORA SEAKAN MABOK KEMENANGAN

Oleh: Saiful Bahri

Pada saat-saat terakhir, DN Aidit sebagai pimpinan tertinggi mengadakan perubahan pada konsep persiapan itu, antara lain nama gerakan yang semula diberinama Operasi Takari (Tahun Berdikari, nama pidato Presiden Seokarno pada 17 Agustus 1965), menjadi “Gerakan 30 September” (1965). Dia dibantu Iskandar Subekti dan Pono sebagai penghubung Cenko (Central Komando). Kusno sebagai pengawal pribadi Aidit dan Mayor Udara Sujono sebagai penghubung Cenko dengan Ko.Ops.AU di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma Jakarta.


Sementara tanggal 30 September 1965 malam terjadi kesibukan yang luar biasa di Lubang Buaya, sebuah nama kampung di Kecamatan Pondok Gede, Jakarta. Daerah itu termasuk di dalam wilayah kekuasaan Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Di situ ada ratusan Sukarelawan Kita (Sukta) yang semula diniatkan untuk menjadi pasukan sukarelawan membebaskan Irian Barat, yaitu terdiri dari 400 dari Pemuda Rakyat, dan 100 dari Gerwani. Mereka dalam keadaan siap tempur bersama kompi Brigif I Kodam V/Jaya, kompi dari Yon 454/Diponegoro, dan Yon 530/Brawijaya, Resimen Cakrabira, yang tergabung dalam Divisi Ampera.

Pada Pukul 02.30, tanggal 1 Oktober Lettu Dul Arief, Komandan Pasukan Pasopati, yang bertugas menculik para jenderal, mengumpul para anggotanya. Dia memberikan briefing bahwa mereka akan melakukan penculikan para jenderal yang akan mengkudeta Presiden Soekarno, hidup atau mati.
Akhirnya, pasukan bergerak pada pukul 03.00, berawal dari penculikan di rumah Menko Hankam/Kasab Jenderal Nasution, tetapi gagal. Nasution dapat meloloskan diri, tetapi mengakibatkan terbunuhnya anak bungsunya yang berana Ade Irma Suryani, serta penangkapan ajudan bernama Lettu Pierre A Tendean.

Kemudian Menteri/Panglima AD Letjen A Yani, Deputy II/Pangad Mayjen Suprapto, Asisten 1/ Pangad Mayjen S Parman, Deputy III Men/Pangad Mayjen Haryono MT, Oditur Jenderal Militer/Inspektur Kehakiman Brigjen Sutoyo, dan Asisten IV/Pangad Brigjen DI Panjaitan.
Enam Jenderal dan 1 perwira itu dibawa ke Lubang Buaya diterima Komandan Komando cadangan tempur di Halim Perdanakusuma, Mayor Udara Gatot Sukrisno. Dalam keterangannya di Mahmilub, Gatot mengakui bahwa datang 3 tawanan telah gugur, yaitu Jenderal A Yani, Mayjen Haryono MT, dan Brigjen Panjaitan. Dan 4 tawanan masih segar, yaitu Mayjen S Parman, Brigjen Sutoyo, Mayjen Suprapto, dan Lettu Pierre Tendean.

Kedatangan para jenderal yang mereka sebut dengan “kabir” (Kapitalis birokrat) dan anggota “Dewan Jenderal” disambut dengan teriak-teriakan dan ejekan-ejekan oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani. Mereka seolah-olah berpesta pora, mabuk kemenangan. Beberapa jenderal yang masih hidup dilecehkan oleh gerombolan G-30-S/PKI. Setelah puas, baru kemudian para perwira itu dibunuh. Mayatnya dimasukkan ke dalam sumur tua. Untuk menghilangkan jejek, sumur itu ditimbuni dengan sampah dan dedaunan, sehingga tersamar.

Pada pukul 07.20, tanggal 1 Oktober 1965, RRI di Jalan Merdeka Barat No 4-5 Jakarta yang telah dikuasai G-30-S/PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September 1965. Kemudian pada pukul 09.00 Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani dalam radiogram menyatakan serupa dengan embel-embel “untuk mengamankan dan menyelamatkan Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi terhadap subversi CIA”.

Kemudian pukul 13.00, Brigjen Sabur, Komandan Resimen Cakrabirawa (Pasukan Pengawal Presiden), mengumumkan bahwa Presiden Soekarno dalam keadaan sehat wal afiat dan tetap menjalankan pimpinan negara. Pukul 14.00, Gerakan 30 September menyiarkan Dekrit No 1 tentang pembentukan Dewan Revolusi Indonesia.

Dekrit ini menyebutkan Dewan Revolusi sebagai sumber dari segala kekuasaan negera. Dan Kabinet Dwikora dinyatakan dalam status demisioner, sampai terbentuknya kabinet baru oleh Dewan Revolusi. Dekrit ditandatangani Komando G-30-S: Letnan Kolonel Untung (Dan Yon I Resemen Cakrabira).

Kemudian disusul pengumuman Keputusan No 1 tentang susunan Dewan Revolusi, hanya terdapat beberapa nama orang komunis. Lebih dari 25 orang adalah crypto komunis seperti Untung, Supardjo, Heru, Omar Dhani, Siau Giok Tjan, Karim DP, Ir Surachman, Hardojo, dan lainnya. Selebihnya adalah orang-orang agama dan Pati ABRI yang tidak tahu menahu apa-apa.

(Susunan Dewan Revolusi tersebut diperlukan untuk menyesatkan umum, seolah itu bukan kup komunis. Itu adalah semacam Kabinet Kerensky dalam Revolusi Sosialis di Moskow Mei 1917. Kerensky membentuk kabinet terdiri dari golongan sosialis dan moderat. Namun pada tanggal 8 November 1917 ia dikup oleh Nikolai Lenin. Kerensky hanya diperlukan sebagai pemerintah sementara, sebagai selimut. Demikian pula secara teoritis Marxis-Leninisme rencana Dewan Revolusi-nya Untung).

Aidit secara resmi menamakan pemberotakan ini “Gerakan 30 September”, mesti secara realistis bahwa semua gerakan itu dilakukan setelah lewat jam 00.00, jadi sudah masuk 1 Oktober. Jadi mestinya yang benar adalah Gestok (Gerakan 1 Oktober). Mungkin Aidit menghindarkan kecurigaan Angkatan Darat dan kalangan anti-PKI, karena dianggap sama persis dengan tanggal Revolusi Partai Komunis Cina, yaitu pada 1 Oktober.

Karena itulah, sampai sekarang yang lebih dikenal adalah G-30-S/PKI. Kalau PKI berhasil, kemungkinan nama gerakannya “Gerakan 1 Oktober”, sama dengan senior PKI, yaitu PKC.—(Saiful Bahri).

(Bersambung: “Penumpasan PKI di daerah, Kasus Kota Solo?”).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (5)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus