Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (4)


PKI TERJEBAK PADA POSISI “MALING TERIAK MALING”

Oleh: Saiful Bahri

Pada 30 Agustus 1965 di Jakarta, ribuan pemuda komunis dan simpatisan di organisasi massa lainnya mengadakan demo besar-besar menuntut pemerintah memutuskan hubungan deplomatik dengan AS. Mereka mendatangi Kedubes AS dan menyampaikan tututan kepada Duta Besar Marshall Green yang dituduh membawa papan nama partai Murba dan menuntut tunjuk hidung Neo-BPS (Barisan Pendukung Soekarno).


Puncak demonstrasi dilakukan dengan perusakan dan pembakaran Kedubes Inggris. Kemarahan yang memuncak ini karena para pemuda komunis ketika mendemo dan memporakpandakan rumah Bill Palmer di Gunung Mas, Puncak, menemukan dokumen Gilchrist yang berisi rencana penggulingan kekuasaan Presiden Soekarno, bersama-sama dengan “our local army friends” (yang ditafsirkan PKI sebagai Dewan Djendral (DD, ejaan lama).

Menghadapi kerusuhan yang sangat hebat itu, pihak berwajib seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa. Koran PKI “Harian Rakjat”, 4 September 1965, membuat tajuk, “Kaum kontra-revolusioner menyebarkan kampanye seakan-akan PKI mau kup. Sesungguhnya mereka sendirilah yang menyiapkan kup itu.” Orang justru menafsirkan sebaliknya, suara Harian Rakjat itu sebagai pengungkapan dari rencana PKI yang sebenarnya, ibarat “maling teriak maling”.

Inidikasi ini sebetulnya jauh diketemukan pada minggu pertama bulan Agustus 1965, waktu situasi revolusioner telah menunjukkan hamil tua dan tinggal menunggu peraji. Dalam sidang perkara Sjam terungkap, Ketua Polit Biro PKI DN Aidit memerintahkan Sjam (Kepala Biro Khusus PKI) untuk mengecek pasukannya. Yaitu pasukan yang akan menyergap DD.

Sjam mendiskusikan apakah tidak lebih baik kalau dilancarkan dengan kekuatan massa? Aidit menjawab, “Itu adalah masalahnya tentara sendiri. Kita harus berada di latar belakang saja. Kalau dilancarkan dengan massa, menjadi terlalu menyolok, akan tampak bahwa telah dipersiapkan pada skala nasional.”

Untuk memberi kesan sebagai masalah intern TNI-AD, operasinya harus diatur dengan sangat terbatas (lemited scope). Sjam harus melaporkan hasilnya. Ini adalah perintah Aidit. Organisasinya adalah berikut = Pimpinan: Ketua PKI DN Aidit. Komando: Sjam, yang mengkoordinir sektor politik dan militer. Dibantu oleh Pono dan Walujo, sedang Njono melaksanakan perintah operasi Jakarta Raya. Tugas menyusun Dewan Revolusi pada Aidit. Biaya dikoordinasikan kepada Sudisman. Pelaksana di lapangan, antara lain Letkol Untung dan Kolonel Latief. Instruksi Gerakan Tutup Mulut (GTM) dikirim ke seluruh Indonesia.

Di berbagai pelosok daerah di Indonesia, pimpinan PKI dan simpatisannya terus saja membakar massa. Munir, Ketua DN SOBSI di depan sidang ke-2 DN SOBSI pada permulaan September 1965, ber-parikan (patun Jawa):
“Suwe ora jamu, jamu godong turi
Suwi ora ketemu, ketemu pisan banjur aksi.”

Bulan September tahun itu merupakan bulan paling terpanas dalam asmospir politik di Indonesia. Ditambah dengan perkembangan ekonomi yang carut-marut. Orang takut pegang uang karena setiap hari nilainya terus menurun. Segala macam keperluan hidup terpaksa dijatah. Rakyat antri beras, minyak, gula, gandum, tekstil, dan lainnya mewarnai kehidupan sehari-hari.

Secara politik, ekonomi, maupun sosial masyarakat menjadi semakin resah, gelisah, dan tidak tenang. Mereka merasakan seperti akan terjadi sesuatu, tetapi tidak tahu sesuatu itu apa. Kegelisahan rakyat inilah yang menjadi target PKI untuk melangkah setapak lagi mencapai saat revolusioner.
Inilah makna dari perkataan anggota Polit Biro PKI, Anwar Sanusi, di Jambi, 29 September 1965: “keadaan ibu pertiwi sudah hamil tua tinggal tunggu peraji”. Sesuatu akan lahir (kekuatan baru), dan yang jelas akan berdarah (memakan korban). (*)

(Bersambung: “MEREKA BERPESTA PORA SEAKAN MABOK KEMENANGAN”).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (4)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus