Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (3)


MENJELANG G-30-S/PKI: “IBU PERTIWI SUDAH HAMIL TUA”

Oleh: Saiful Bahri

Pada tanggal 29 September 1965, Anwar Sanusi Ketua Biro Khusus PKI Jambi mengatakan, “Ibu Pertiwi sudah hamil tua, tinggal tunggu peruji (dukun bayi).” Kebetulan, pada tanggal 30 September dalam acara Munas Teknik di Istora Senayan, Bung Karno dalam akhir pidatonya yang berkobar-kobar mengatakan, “Kerjakanlah kewajibanmu, dengan tiada menghitung-hitung akibat bagimu.” Mengambil seloka Bagawat Gita, waktu Sri Krisna mendampingi Arjuna yang ditunjuk sebagai panglima perang. Arjuna ragu-ragu, karena dia harus menghadapi keluarganya sendiri, yaitu pihak Kurawa.


Memang menjelang G-30-S/PKI udara sudah pengap dengan bau mulut politik dan sepertinya akan muncul bau anyir darah yang keluar dari Ibu Pertiwi. Salah satu yang membuat panas suasana itu adalah adanya ditemukan Dokumen Gilchrist. Gilchrist adalah nama Duta Besar Inggris untuk Indonesia. Dokumen itu dikirim lewat surat kaleng kepada Subandrio, Menlu RI waktu itu, sekaligus Kepala Badan Penyelidik Indonesia (kalau sekarang BIN). Isinya dokumen yang tertanggal 24 Sptember 1965 ini menyebutkan, “Dubes AS Jones pada pokoknya sepakat dengan pendirian kita, akan tetapi minta waktu untuk mempelajari.” Juga disebut, “Our local army friends.”

Dokumen yang belum dicek kebenarannya itu langsung di bawa Subandrio, yang setelah G-30-S/PKI digelari mahasiswa dengan julukan “Durno” (pendeta yang suka mengadu domba antara Pandawa dan Kurawa), kepada Presiden Soekarno. Bahkan disebar kepada delegasi luar negeri yang datang ke Indonesia. Kalimat “our local army friends” itu yang ditafsirkan Subandrio sebagai kalangan militer Indonesia, dan lebih dipertajam lagi oleh Aidit sebagai “Dewan Jenderal” yang akan menggulingkan kekuasaan sah Presiden Soeharto.

Karena fitnah tentang adanya Dewan Jenderal inilah, PKI punya alasan untuk bertindak lebih cepat dan telah mempersiapkan gerakan untuk menumpas para jenderal yang dituduh akan menggulingkan Presiden Soekarno. Itulah yang resmi dikatakan PKI sebagai alasan dalam melakukan Gerakan 30 September 1965 dan dilanjutkan dengan Gerakan 1 Oktober 1965. Mengapa begitu? Sebab musuh utama PKI adalah TNI, utamanya Angkatan Darat (meski di dalam AD sendiri juga ada pengkhianatan) dan umat Islam. Bagi PKI, lebih utama menghancurkan TNI/AD dulu baru kemudian menghancurkan umat Islam lewat perang saudara.

PKI telah termakan oleh fitnah Subandrio. Atau memang keduanya bersekongkol dalam melakuan fitnah itu, sehingga tidak mau tahu, apakah isi dokumen Gilchrist itu benar atau tidak. Sebab akhirnya, ketahuan bahwa isu Dokumen Gilchrist itu dimainkan oleh agen-agen inteljen komunis dari luar negeri, khususnya Uni Soviet dan Cekoslovakia.

Ladislav Bittman, seorang bekas Kepala Departemen D Dinas Inteljen Cekoslovakia, dalam bukunya yang berjudul “The Deception Game” (Permain Curang) mengkisahkan bahwa Departemen D Dinas Inteljen Cekoslovakia adalah dinas kabar bohong atau propaganda hitam (black propaganda) Intel Cekoslovakia. Operasinya untuk merusak kepercayaan dunia atas AS, NATO, dan Jerman Barat, terutama ditujukan kepada negara-negara berkembang di Afrika, Asia, dan Eropa.

Bitmann mendapatkan Dokumen Gilchrist ini, katanya, berasal dari para mahasiswa komunis yang mendemo di depan dan sekaligus memporak-poranda isi rumah Bill Palmer di Puncak. Bill Palmer adalah direktur Gabungan Importir Film Amerika di Indonesia. Bill dituduh sebagai agen CIA, terbukti dengan memiliki dokumen itu. Karenanya, dia diusir dari Indonesia, selain karena tuduhan bahwa film Amerika yang dianggap kapitalis borjuis telah merusak moral bangsa Indonesia.

Intel Cekoslovakia sendiri heran, ternyata dokumen palsu yang dia pasok ke Subandrio telah dioleh sedemikian rupa, sehingga membuat PKI blingsatan dan merencakan sebuah gerakan pemberontakan. Bagi PKI, “lebih baik mendahului TNI, daripada didahului”. Alasan lain adalah karena PKI telah menerima kabar buruk dari para dokter Cina yang merawat Presiden Soekarno bahwa Bung Karno secara medis akan segera mati, konsekuensinya PKI tidak ada pelindung lagi, sekaligus peluang untuk mendahului merebut kekuasaan Soekarno. Kedua kabar palsu itu semuanya berasal dari Subandrio. Sebab Bandrio ingin menyingkirkan Aidit dalam lingkaran Soekarno, dan dikenal pada waktu itu Bandrio adalah “putra mahkota” kalau Bung Karno meninggal. Jadi Si Durno ini ingin mengurangi salah satu pesaingnya.

Namun itu bukan kesalahan Bandrio semata, tetapi karena PKI sendiri memiliki niat busuk untuk merebut kekuasaan. Dalam Marxisme tidak dikenal faktor kebetulan dalam revolusi. Mereka memang sudah “niat ingsung” untuk merebut kekuasaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menghalalkan cara sekalipun. Karena itulah, kesalahan utama tetap ditujukan kepada pimpinan PKI yang melakukan pengkhianatan terhadap bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila untuk diganti dengan ideologi komunisme.

Apa yang terjadi selanjutnya? Ulah inteljen yang tidak segan-segan membuat fitnah dan niat busuk memberontaklah yang membawa korban kepada orang-orang yang tidak bersalah. Korban pertama G-30-S/PKI adalah enam jenderal dan beberapa perwira lainnya. Belum lagi, para anggota PKI yang harus ikut menanggung petualang Aidit dan Biro Khusus PKI dalam pemberontakan melawan kekuasaan negara yang sah. Karena itulah, peristiwa ini bisa disebut sebagai Tragedi 30 September 1965. Ribuan nyawa telah melayang karena fitnah yang keji itu. -- (Saiful Bahri).
(Bersambung: PKI TERJEBAK PADA POSISI “MALING TERIAK MALING”).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (3)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus