Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (2)


PKI JALANKAN TEORI SPONTANITAS ROSA LUXEMBERG

Oleh: Saiful Bahri

Ketua Komite Sentral PKI DN Aidit melakukan riset ke desa, diikuti 57 anggota Himpunan Sarjana Indonesia (organisasi mantel PKI) pada 11 April sampai 30 Mei 1964 di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hasilnya, menurut mereka, ada 70% buruh tani dan petani miskin di Indonesia. Kesimpulan ini untuk senjata PKI mendobrak kemacetan pelaksanaan UUPA (Undang-undang Pokok Tanah) dan UUPBH (Undang-undang Pokok Bagi Hasil) yang sudah disahkan pada 1960.


Sebetulnya ada udang di balik batu dalam Reset PKI ini, yaitu untuk menjajal kekuatan rakyat desa dalam revolusi. Karena itulah PKI mendorong adanya aksi sepihak yang dilancarkan BTI, Sarbupri, SOBS, dan Pemuda Rakyat di beberapa daerah di pedesaan.

Mereka mencanangkan slogan mengganyang 7 setan desa (tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pemukut zakat), dan 4 bukit setan (imprealis, tuan tanah feodal, kapitalis birokrat, dan kapitalis komprador). Di lain tempat ada juga istilah 3 setan kota (kapitalis birokrat, manipulator, dan koruptor).

Tujuan yang hendak PKI targetkan adalah adanya Landreform, atau dalam bentuk kasarnya, pembagian tanah kepada buruh dan petani miskin yang tidak punya tanah. Di Jawa tidak mungkin terjadi karena sempitnya lahan dibanding banyaknya penduduk. Namun anehnya, mengapa waktu itu PKI tidak mendorong transmigrasi ke luar Jawa yang tanahnya masih luas untuk digarap petani Jawa?

Hal ini dianggap tidak menguntungkan, sebab bagi PKI memindahkan para petani revolusioner ke luar Jawa, berarti mengurangi kekuatan partainya. Sedang di luar Jawa, kekuatan PKI sangat lemah.
PKI mendapatkan angin segar ketika Presiden Sukarno dalam pidato TAVIP 17 Agustus 1964 mengatakan, “Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama saja dengan omong besar tanpa isi, dan jangan menghadapinya (landreform) dengan komunisto phobi.”

Motor penggerak aksi sepihak adalah BTI dan KTK (Kelompok Tempat Kerja) serta KK (Kursus Kilat) di bawah pimpinan massa aksi. Secara simultan, PKI melakukan aksi sepihak. Dimulai dengan pemogokan buruh PN Barata di Surabaya, padahal ada larangan mogok berdasarkan UU pada waktu itu.

Aksi sepihak tani dilakukan di Klaten (kota ini dipilih sebagai pilot project aksi sepihak PKI). Kemudian menjalar ke Jongkol, Banjar, Banyuwangi, Pemalang, Indramayu, Boyolali, dan mencapai puncaknya pada pemenggalan kepala Pelda Sudjono di Bandar Betsi, 14 Mei 1965.

Kelak, setelah G30S/PKI, daerah-daerah yang pernah menjadi sasaran aksi sepihak PKI merupakan daerah yang paling banyak jatuh korban pengejaran dan pembunuhan. Di Jawa Tengah, khususnya daerah Klaten dan Boyolali; di Jawa Timur, khususnya Kediri dan Banyuwangi. Begitu juga di Pulau Bali, aksi balik para penentang mengganyang PKI hingga ke pelosok negeri.

Aksi sepihak lainnya dalam bentuk teror dan sabotase, seperti kecelakaan kereta api di berbagai kota. Akhirnya aparat dapat menangkap pelaku, dan dalam pengakuan mereka mereka dibayar oleh oknum PKI. Begitu di bidang pemasaran barang-barang perdagangan, serikat buruh PKI/SOBSI mempraktekkan teori pembusukan, dalam arti sebenarnya, sehingga banyak barang perdagangan terlambat dikirim atau busuk di tengah jalan.

PKI juga memfitnah para pejabat yang berasal dari TNI/AD di berbagai Perusahan Negara, telah melakukan korupsi. AH Nasution, waktu itu Wakil Pangab, melancarkan “Operasi Budhi” untuk membuktikan kebenaran tudukan PKI, para tentara di perusahan itu korupsi atau tidak? Ternyata tidak ada buktinya.

PKI telah berhasil menjalankan teori spontanitas Rosa Luxemberg: “Untuk mengadakan revolusi kepada massa proletariat cukup diberi rasa dan keyakinan, bahwa keadaannya amat buruk. Dengan sendirinya secara spontan kaum proletar itu akan bangkit”.

Teori Spontanitas Rosa Luxemberg ini juga masih berlaku sekarang. Apabila di suatu negara ada pihak-pihak yang mengail di air keruh, maka mereka akan terus menghadirkan keadaan negara keadaan krisis, dengan data dolar naik, harga pangan naik, banyak penyalahgunaan di pemerintahan, kerusakan alam akibat ulah manusia, dan terjadi kecelakaan yang terjadi secara wajar atau tidak wajar (sabotase); maka rakyat akan menjadi was-was dan chaos.

Lama-lama rakyat akan histeria dan menganggap keadaan betul-betul telah terjadi krisis. Meski tidak sampai revolusi, tetapi akan terjadi kegaduhan, demonstrasi, dan puncaknya penjarahan (semacam aksi sepihak PKI). Di sini, yang paling diuntungkan adalah “musuh negara”. Sebab orang-orang radikal ini baru bisa melancarkan aksinya ketika negara dalam keadaan kacau. Wallahua’lam. (sb).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (2)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus