Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (1)


BIRO KHUSUS PKI DAN DALANG DI BALIK DALANG

Oleh: Saiful Bahri (Sejarawan Islam)

Mengapa PKI begitu cepat menanjak dan berhasil meraih anggota hingga 3 juta dan 20 juga simpatisan hanya dalam masa 15 tahun saja? Hal ini terjadi bukan karena masyarakat lengah dengan kekuatan PKI, atau adanya patron Soekarno, tetapi juga karena usaha kaum militan PKI melebarkan sayapnya, khususnya di dalam organ yang dinamai Biro Khusus PKI.

sjam PKI. poto istimewa dari facebook Saiful Bahri

Kemajuan PKI memang sangat pesat di banding partai lain. Kantor pusat PKI di Jalan Salemba Jakarta terasa hidup dengan berbagai macam orang mengurus keperluan, seperti membeli buku-buku komunis yang murah, mengabarkan kematian, mohon pertolongan sakit, atau mengurus administrasi partai di daerah, atau sekadar datang untuk berdiskusi dan menginformasikan perkembangan partai di daerah. PKI mempunyai jaringan pengurus dari pusat hingga ke bawah, yaitu dari Comite Central PKI di Jakarta hingga CR (Comite Resort) Tingkat VI (Pedukuhan: Tinem). Untuk Pulau Jawa tersebar aktivis-aktivis propagandis PKI yang mamasuki 1.430 Kecamatan dan 18.722 Kelurahan.

Biro Khusus adalah organ PKI yang dirahasiakan. Dasar terbentuknya organ rahasia ini adalah Sidang Pleno CC PKI pada akhir Juli 1956. Programnya adalah melakukan kerjasama dengan ABRI. Konsepsi yang dicetuskan DN Aidit sendiri itu dinamakan MKTBP (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan). Yaitu: (1) Bekerja dan melakukan gerilya di pedesaan dengan buruh dan tani; (2) Mengadakan aksi buruh di kota, terutama buruh transportasi; (3) Bekerja sama dengan baik di kalangan ABRI.
Biro Khusus dikenal sebagai “PKI Malam”. Pada tahun 1953 sebenarnya di dalam PKI sudah ada Biro Khusus, pimpinannya Suhadi alias Karto. Setelah dia meninggal, maka diganti oleh Kamaruzaman alias Syam. Atau kadang dipanggil lengkap Syam Kamaruzaman. Syam menjabat Kepala Biro Khusus langsung di bawah Ketua Polit Biro PKI, yaitu DN Aidit. Aidit sendiri yang mengangkat orang-orang kepercayaannya ke dalam Biro Khusus. Mereka yang disusupkan ke dalam partai-partai lain, disebut “fraksi”.

Tugas Fraksi adalah berusaha menarik korbannya (partai tersebut) untuk masuk ke jalur PKI. Kalau tidak berhasil ya harus diusahakan pecah. Akhirnya memang PNI pecah dua. Pertama PNI A-Su, satunya lagi PNI Osa-Usep yang non-komunis. Kemudian Persatuan Guru Republik Indonesia dipecah menjadi dua: PGRI non-vaksentral (komunis) dan PGRI lama. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia pecah jadi dua. Begitu juga IPPI, ada yang condong ke Robby Sumolang (PKI) dan IPPI Pancasila. Kantor Berita Antara direbut Djawoto (PKI), menyisihkan pegawai lama.
Biro Khusus punya spesialis proyek, yaitu menggarap kalangan tentara (ABRI);  sehingga ABRI, khususnya AD, memberikan dukungan kepada PKI, atau paling sedikit mereka tidak anti-PKI. Mengapa kalangan AD begitu bermusuhan dengan PKI, sebab sejak pemberontakan PKI di Madiun, kalangan AD sudah tidak percaya lagi dengan PKI. Keduanya merupakan musuh bebuyutan yang tinggal menentukan tanggal laganya saja.

Cara pembinaan Biro Khusus dilakukan sebelum, selama, dan sesudah, lewat pengumpulan informasi, spotting dan surveillance. Contohnya kasus Brigjen Supardjo (Wakil Komandan G-30-S/PKI, atau wakilnya Kol Untung). Mula-mula informasi dari anggota BTI Ciawi, waktu Supardjo jadi Dan Yon di sana. Pardjo adalah orang yang tegas, kuat, dan sangat aktif dalam penghancuran gerombolan DI/TII. Informasi diteruskan ke CC PKI. (CC adalah legeslatifnya PKI dan Polit Biro adalah eksekutifnya PKI). Kemudian Syam yang waktu itu bisa masuk menjadi informan Seksi I KMKB Jakarta Raya mendapat tugas menghubunginya. Dia minta surat pengantar KMKB untuk menemui Pardjo di Bogor.
Syam sampai di rumah Pardjo, tetapi yang bersangkutan tidak ada di rumah, maka dia dengan sabar menunggu.

Selama menunggu, Syam melihat sederetan buku. Syam mengambil kesimpulan, Pardjo suka membaca, tetapi belum tahu apa topik kesukaannya. Ketika bertemu dengan Pardjo, Syam mengaku sebagai pedagang dan bekas pejuang. Dia tidak menyinggung sedikit pun tentang politik. Omongan keduanya bersifat umum, tentang masalah sehari-hari. Misalnya, persoalan ekonomi yang semakin suram saja. Kontak pertama sudah dilakukan dengan baik.

Pada kunjungan berikutnya pembicaraan dilanjutkan, Syam menyimpulkan Brigjen Supardjo suka pembicaraan masalah pendidikan, maka topik itulah yang pertama dimulai dalam setiap pertemuan berlanjut. Kemudian Syam menjadi akrab, dan mengenal istri dan anak-anak Supardjo. Dalam kedatangannya berikutnya Syam sering membawa oleh-oleh untuk anak-anak Supardjo. Karena itulah, Syam menjadi tamu harian yang disenangi.

Topik pembicaraan meningkat dengan masalah luar negeri atau masalah dalam negeri, seperti Nasakom, Marhaenisme ajaran Bung Karno, dan sekitar ideologi partai: nasionalisme dan sosialisme. Dari sini, diketahui Supardjo bersimpatik kepada gerakan revolusioner, dan punya kecenderungan kepada PKI. Sampai-sampai Brigjen Supardjo memperingatkan Syam untuk berhati-hati datang ke rumahnya, karena dia tinggal di lingkungan militer yang dikenal anti-PKI. Jadi Supardjo sudah mafhum bahwa Syam adalah rekan dalam ideologis. Inilah keberhasil Ketua Biro Khusus PKI dalam menggarap “korbannya” secara halus dan luwes, sehingga tidak terasa bahwa si korban telah terjerat untuk menjadi penganutnya.

Apakah Biro Khusus PKI ini masih ada sampai sekarang? Ingat Biro Khusus itu bekerja secara ilegal, karena itu dinamakan “PKI Malam” (bekerja dalam gelap gulita). Musuh mereka sekarang adalah aparat inteljen negara dan militer, seperti BIN dan BAIS. Namun kita tetap waspada. “Hantu Syam” bisa saja datang di kala kita “gelap dan sendirian”. – (Saiful Bahri).
(Bersambung: “Menjelang Prahara 30 September 1965”).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Menjelang G-30-S/PKI - (1)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus