Melawan Lupa: Menjelang G-30 S/PKI - (0)


PRESIDEN SOEKARNO: “DUDU SANAK DUDU KADANG,
NEK MATI MELU KELANGAN”

Oleh: Saiful Bahri (Sejarawan Islam)

Tak disangka, PKI berhasil “memenangkan” Pemilu 1955 dengan 6,2 juta suara (80 kursi). Menang dalam arti, partai yang 7 tahun lalu dihajar TNI dan para pemimpinnya dihukum mati, ternyata masih bisa eksis menjadi nomor 4, di bawah PNI (9 juta suara, 119 kursi), Masyumi (7,7 juta suara, 112 kursi), dan NU (6,9 juta suara, 91 kursi).

Pers curiga, kemenangan PKI karena bantuan luar negeri (Uni Soviet) dan bantuan dana penguasa Cina yang simpatik dengan perjuangan PKI. Sebab pada waktu itu, partai komunis di luar Uni Soviet sering menjadi satelit dari partai negera beruang merah itu.
“Kemenangan” itu ternyata, tidak hanya menarik para pengamat politik, tetapi juga Presiden Soekarno. Setelah itu, Presiden minta PKI diikutkan di dalam kabinet. Namun PNI, Masyumi, dan NU menolak keikutsertaan PKI. Dan baru tahun 1959, ketika Presiden Soekarno juga sekaligus menjadi perdana menteri, maka beberapa pimpinan PKI masuk ke dalam kabinet, meski bukan memegang kementerian teknis. Pada waktu itu terkenal istilah kabinet “empat kaki” (maksudnya PNI, Masyumi, NU, dan PKI).

Soekarno kesengsem dengan “kemenangan” PKI, sebab hal ini mengembalikan kembali nostalgia lama pada singkretis pemikiran Nasionalisme-Agama-Sosialisme. Sejak Soekarno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959 kembali kepada UUD’45, maka Presiden berkuasa penuh untuk mengangkat dan memberhentikan menterinya.

Sejak saat itu, demokrasi di Indonesia dinamai dengan Demokrasi Terpimpin. Soekarno mendapat gelar Panglima Tertinggi ABRI, Mandataris MPRS, merangkap PM, Pemimpim Besar Revolusi, Ketua Front Nasional, Panglima Komando Pembebasan Irian Barat, Penyambung Lidah Rakyat, dan yang terakhir: Presiden Seumur Hidup! Presiden Soekarno sudah dikultuskan oleh para pengikutnya.
PKI sangat diuntungkan dengan kuatnya kedudukan Presiden, karena beberapa kali Presiden membela kepentingan PKI. Malah Soekarno sendiri mengatakan, rakyat jangan sampai komunis-phobi (takut komunis). Inilah yang dijadikan senjata PKI dalam segala aktivitasnya, bahkan berani menentang TNI dalam beberapa kasus.

PKI semakin mendapat tanah untuk berpijak. Ia bisa menyusupi aparatur, sampai berhasil mengajukan konsep Manifesto Politik (Manipol) sebagai haluan negara. Manipol sebagai inti pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1959 dicanangkan. Kemudian menyusul Usdek (UUD’45, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Nasional) tampil sebagai 5 soka guru.

Setelah itu muncullah istilah-istilah lain, seperti Resopim (Revolusi, Sosiaisme, dan Kepemimpinan Nasional), Tubapi, dan lainnya. Kemudian Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) yang menjadi Tri Sila, yang diperas menjadi Eka Sila, adalah identik dengan Pancasila. Lantas, siapa yang anti Nasakom dituduh anti-Pancasila! Namun ada juga perlawan dari pangikut Bung Karno, seperti Sayuti Melik yang menafsirkan Nasakom tidak tepat, tetapi yang tepat adalah Nasasos (Nasionalisme-Agama-Sosialisme), seperti tesis pertama Soekarno ketika melawan penjajah Belanda.
PKI semakin lapang jalannya, ketika dua musuh beratnya dibubarkan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1961, yaitu Partai Masyumi dan PSI. Alasan pembubarannya, kedua partai itu terlibat dengan para pemberontak PRRI/Permesta. PKI senang pada saat itu. Namun, PKI yang dua kali memberontak lolos dari hukuman pembubaran partai, pada waktunya nanti (1966) juga mengalami hal serupa, dibubarkan MPRS hingga sekarang tidak bisa bangkit lagi.

Puncak kekerabatan Soekarno dengan PKI terjadi ketika perayaan ulang tahun PKI yang ke-45 di Istora Senayan pada 23 Mei 1965, Presiden mengatakan di hadapan massa PKI: “Dudu sanak dudu kadhang, nek mati melu kelangan” (Bukan keluarga bukan kerabat, tetapi kalau meninggal ikut kehilangan). Mereka yang anti-PKI menafsirkan bahwa Presiden Soekarno sudah berpihak 100% kepada PKI. Karena itulah, terjadi ketegangan politik di tingkat tinggi, khususnya TNI dan umat Islam.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya? (SB).

(Bersambung: “Gerakan 30 September 1965 oleh PKI dan Peran Biro Khusus”).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: Menjelang G-30 S/PKI - (0)"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus