Melawan Lupa: 18 September 1948, Pemberontakan Madiun

Oleh: Saiful Bahri

Pukul 08.00 tanggal 18 September 1948 tiga tembakan menandakan dimulainya pemberontakan PKI di bawah kepemimpinan Muso untuk mendirikan pemerintahan soviet di Madiun. Daerah ini ditandai seperti daerah Jenan bagi komunis Cina.

Kebiadaban PKI pada pemberontakan Madiun, 1948. image by wikipedia

Detasemen-detasemen merah merebut gedung-gedung pemerintah dan militer, kantor polisi, bank, kantor pos dan telepon. Beberapa orang tentara gugur. Bendera merah di tengah ada gambar palu arit dikibarkan. Orang-orang PKI itu menganggap revolusi telah berjalan dengan sukses.

Lewat Radio Madiun, Sumarsono, komandan Pesindo mengatakan, ‘Madiun telah bangkit, Revolusi telah dimulai. Rakyat telah melucuti polisi dan tentara. Buruh dan tani telah membentuk pemerintahan baru. Pemerintah Soviet. 

Senjata tidak akan dilepaskan sampai seluruh Indonesia dibebaskan!”
Presiden Soekarno lewat Radio Yogya, “Aku persilahkan pilih Muso dengan partai komunisnya, atau Soekarno-Hatta, yang insya Allah akan memimpin Republik ke arah kemerdekaan.” Muso lewat Radio Madiun juga menantang, mempersilahkan rakyat memilih.

Setelah itu terjadi pembunuhan massal oleh PKI terhadap para kiai, pangrehpraja, guru, tentara, dan pangawal negeri. PKI menganggap bahwa mereka adalah lawan-lawan yang harus dimusnahkan. Bukti pembunuhan massal terbukti di Dungus, Gorang-gareng. Secara ajaib, kapten Kartidjo, salah satu korban selamat dari pembantaian, karena dia menjatuhkan diri lebih dulu di dalam lubang besar kuburan massal dan tertumpuk oleh mayat-mayat korban keganasan PKI.

Namun TNI dan rakyat Indonesia menjawab tantangan Muso, dan dalam tiga hari riwayat pemerontakan itu berakhir. Sebanyak 35.000 tawanan PKI dimasukkan ke dalam penjara. Hampir seluruh pimpinan PKI dilikuidasi. Hanya beberapa tokoh PKI yang melarikan diri, seperti Alimin, Wikana, Aidit, dan Lukman.

Suripno, salah satu pimpinan PKI Madiun, dalam penjara menulis, “Faktor penting mengapa kita kalah adalah karena sangat kurangnya dukungan rakyat. Di luar kota Madiun yang rakyatnya dianggap ‘baik’, hanya memberi dukungan sangat tipis. Bahkan di beberapa daerah rakyat bisa dikerahkan untuk menangkap kita. Kesalahan kita adalah kita tidak dapat membuat landasan politik yang cukup kuat.”

Masih dari otokritik Suripno, “Dan yang sangat disesalkan adalah pembunuhan-pembunuhan massal dan kekejaman yang terjadi di beberapa tempat dalam hubungan dengan Madiun. Kita merasa tidak ikut bertanggungjawab atas kejadian itu. (Ciri khas PKI lari dari tanggungjawab) Pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa itu adalah bahwa rakyat tak membantu kita.”

Memang ada beberapa perlawanan kecil di luar  Madiun, tetapi akhirnya TNI dan rakyat dapat mengalahkan serta menangkap para pemberontak itu. Begitu juga para pemimpin PKI seperti Amir Syarifuddin, Suripno, Sardjono, Maruto Darusman, Haryono, Oei Gwee Hwat, Sukarno Pesindo Solo, Kolonel Djokosujono (Gubernur Militer PKI di Madiun) dihukum mati setelah dipenjara beberapa saat. Muso sendiri mati dalam aksi tembak-menembak dengan TNI di desa Sumandeng, selatan Ponorogo, pada 30 Oktober 1948.

Pemberontakan PKI di Madiun adalah pengalaman gagal kedua PKI dalam merebut kekuasaan yang sah. Yang pertama adalah Pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Gagal karena tidak adanya kepemimpinan yang jitu, sehingga pemberontakan bisa dipadamkan dalam waktu yang tidak lama.

Hal serupa diulang lagi di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Meski ada kepemimpin yang kuat tetapi terlalu tergesa-gesa dan ternyata tidak cukup waktu untuk mengindotrinasi rakyat dengan perjuangan mereka. Di samping itu tidak adanya perhitungan yang matang dan hanya spontanitas sekadar melihat peluang yang ada.

Dalam pembelaan yang ditulis oleh Aidit di majalah Bintang Merah pada tahun 1951, Aidit menolak istilah Pemberontakan Madiun, dan diperhalus dengan istilah “provokasi Madiun”, maksudnya diprovokasi oleh teror “putih”. Kemudian diubahnya menjadi “peristiwa Madiun”. Aidit tetap membela Pemberontakan Madiun.

Hal ini mengingatkan kita kepada analisis sarjana simpatisan PKI yang mengatakan bahwa G-30-S/PKI hanyalah persoalan intern TNI, bukan oleh para pemimpin PKI/Aidit dkk. Karena itulah tulisan ini disajikan untuk melawan lupa. (sb).

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Melawan Lupa: 18 September 1948, Pemberontakan Madiun"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus