Ikhwan dan Khilafah

Oleh: Yusuf Maulana

Masih banyak akademisi, intelektual, dan ulama Aswaja di tanah air yang menisbatkan Ikhwanul Muslimin bakal selalu memperjuangkan kekhilafahan berdasarkan gagasan dan tulisan Hasan al-Banna. Imbasnya, siapa saja yang toleran dan memakai rujukan pada Ikhwan, meski dari pelbagai kelompok berbeda, dihukum sama: pejuang kekhilafahan.

Repotnya, lahir stigma rutin saban tahun politik. Awam hendak dicegah agar keindonesiaannya konon agar tidak menabrak konstitusi. Spanduk jalanan dan mimbar akademik tanpa ragu mendakwa.

Ikhwan ditubuhkan pada Maret 1928, empat tahun selepas Utsmaniyah dibubarkan Kemal Attaturk. Masa-masa selepas pembubaran kekhalifahan Utsmaniyah, mayoritas ulama dan negeri-negeri Islam berjibaku memperjuangkan penegakan kembali institusi khalifah. Lihat upaya serupa di Tanah Jawi yang digagas Sjarikat Islam dan beberapa organisasi Islam. Tak terkecuali alim di organisasi yang hari ini jamak dikenal alergi dengan wacana khilafah. Semua sepakat: umat perlu satu pemimpin.

Zaman terus bergulir. Tiap gerakan atau harakah Islam alami dinamika merespons zaman. Termasuk di Ikhwan. Pluralitas negeri-negeri umat Islam dengan dinamika masing-masing, tak sepi dari amatan Ikhwan. Maka, hal jamak bila ada perbedaan di antara ide al-Banna dan generasi berikutnya. Pada masa Sayyid Quthb saja ia lebih mengusung pemerintahan supranasional dengan tidak menekankan pada bentuk tertentu. Ini bukan serupa kekhilafahan walau masih menekankan pentingnya asas syariat sebagai pembangun pemerintahan.

Era Yusuf al-Qaradhawi berubah "drastis" gagasan pemikiran Ikhwan. Belum lagi cawangan Ikhwan lain semisal Rachid Ghannouchi di Tunisia. Mereka tampil "liberal" bila diukur pada masa al-Banna. Andaikata Imam asy-Syahid hidup, marahkah beliau Ikhwan "diselewengkan"? Saya ragu. Beliau sosok moderat dan apresiatif pada perbedaan. Lihat bagaimana ia menyentuh hati Thaha Husein dibanding para islamis negerinya.

Jadi, cara pandang membabit penuh kesumat pada siapa saja yang dianggap pengusung Ikhwan sebagai antek misi khilafah, jelas ia tertinggal sekian dekade dalam berpikir. Referensi otaknya masih pada al-Banna, itu saja dibaca parsial. Mereka lupa para leluhurnya pun perjuangkan soal senapas dengan khilafah kala Utsmaniyah rontok. Bahwa kini memilih setia dengan NKRI, itu ijtihad yang tak boleh dipaksa pada orang lain apalagi merasa paling otoritatif. Yang lain juga ada dinamika, dan sama-sama memperjuangan Indonesia. NKRI dikawal dengan hati selaksa Natsir gaungkan mosi integral. Tanpa harus gaduh nawaitunya.

Pun muslimin yang mengambil inspirasi dari gerakan Ikhwan. Tak mungkin hanya mematok loyal dan taqlid pada al-Banna sementara zaman berubah, nun di luar sana ada banyak ikwani mumpuni menawarkan ide brilian yang sayang kalau diempaskan begitu saja. Qaradhawi, Youssef Nada, Tariq Ramadhan, Jasser Auda, Ghannouchi, Anis Matta, Mujahid Yusof Rawa, dan deretan nama lain.

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Ikhwan dan Khilafah"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus