Ujian Bagi Sang Pewaris Nabi

Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd
(Forum Muslimah Pantura).

Apa jadinya kehidupan, jika tak ada lagi ulama yang setia menuntun umat ke jalan yang diwariskan Nabi? Umat tentu akan salah arah dalam meretas kehidupan, bingung mencari solusi atas persoalan yang silih berganti.

Ulama bagaikan ribuan bintang di malam hari. Penjagaannya terhadap risalah Nabi adalah cahaya dan keberkahan bagi umat. Ulama Sang pewaris nabi tak mudah termakan bujuk rayu dunia. Rasa takut pada Allah semata cukup membuatnya berpegang teguh pada Islam saja meski bahaya mengancam jiwa raga. Lisan ulama tak pernah kelu mengoreksi penguasa yang berpaling dari hukum-hukum Allah SWT. Selalu terdepan pembelaannya kepada umat dari penguasa yang abai mengurusi. Terang saja umat selalu mendambakan ulama sang pewaris nabi agar kerusakan tak menjadi-jadi.

Namun apa daya, bertahan menjadi pewaris nabi yang terpercaya, sungguh tak mudah di waktu kini. Saat Demokrasi membelenggu semua sendi kehidupan. Menebar seribu satu jebakan yang mampu mengelincirkan ulama ke jurang kenistaan. Kehancuran umat pun jadi taruhan.

Tidaklah berlebihan apa yang diungkapkan Imam al Ghazali dalam kitabnya ihya ‘ulumuddin, juz 7, halaman 92, menyatakan:

"Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat dan pernyataannya membekas di hati. Namun sekarang, terdapat penguasa yang tamak namun ulama hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapa saja yang digenggam oleh cinta dunia niscaya tidak mampu menguasai ‘kerikilnya’, bagaimana lagi dapat mengingatkan penguasa dan para pembesar."

Tak dipungkiri,  pesona ulama begitu memikat penguasa Demokrasi.
Disaat hajatan politik lima tahunan, sosok ulama banyak dicari. Dibelakangnya jutaan umat siap mendengar dan mengikuti.  Legitimasi ulama bagi kekuasaan adalah harga mati. Ketika citra penguasa tak lagi memukau dan menarik hati.

Sang pewaris Nabi pun tersandera oleh tawaran kenikmatan sesaat. Jabatan dan nama besar membuat ulama tak lagi membela umat sepenuh hati. Ulama pragmatis pun terbeli dalam perniagaan yang tak menguntungkan dunia-akhirat. Kehinaan dan kemurkaan Allah didapat, cepat atau lambat.

Sungguh! Racun Demokrasi adalah formula yang disebarkan kafir penjajah untuk menjauhkan ulama dari kemuliaannya. Disadari atau tidak, Demokrasi mampu mengganti wajah ulama sang pewaris nabi menjadi umala'nya (antek) penguasa. Tidak mengherankan bila sekarang umat menyaksikan ulama berlomba-lomba  jadi corong penguasa, jadi alat partai politik untuk meraup suara umat demi kekuasaan, bahkan tak sedikit ulama yang diperalat (dibayar) oleh bangsa penjajah asing untuk menjajakan faham liberal dan sekuler. Tinggal menunggu waktu saja, kehidupan umat hancur karena ulama yang buruk di sisi Allah dan rasul-Nya.

Wahai! Umat yang terbaik di sisi Allah. Belum tibakah saatnya mencampakkan sistim Demokrasi yang buruk ini? Terbukti Demokrasi telah merampas  sang pewaris nabi dari sisi kalian.

Wallahualam bi ash shawwab

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Ujian Bagi Sang Pewaris Nabi"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus