Razan, Bidadari Yang Ditembak...




Oleh: Dian Adryanto

Sebutir peluru itu berlari kencang. Berputar melintasi jarak, membelah udara terbuka. Ia dilepas dengan sengaja menuju sasarannya. Tak mungkin salah tembak, penembak jitu selalu punya motto, satu peluru satu nyawa.
Sebutir peluru itu menuju ke jantung Razan, perempuan muda, 21 tahun baru usianya. 

Jantung yang berdegup penuh cinta, di tengah ladang tak berperikemanusiaan. Di dekat pagar pembatas Khan Younis,  kawasan selatan  jalur Gaza, Palestina.
Peluru tadi menyentak, menembus dada Razan, merobek jas putih simbol paramedis yang dikenakannya, menembus tepat jantungnya.

Apa salahnya? Ia tak bersenjata, ia tak melakukan serangan apapun pada tentara Israel itu, Razan justru sedang menyelamatkan lelaki tua yang terkapar, di tengah demo memanas, dan rentetan tembakan tentara Israel, sangat dekat dari pagar pembatas.
Razan, perempuan muda paramedis itu ditembak. Siapapun yang menembak, telah punya maksud menyudahinya, menutup segala impiannya,  mengakhiri seluruh cintanya pada manusia. Tak pedulikan jas putih yang dikenakannya.

Razan, gadis itu, tak bisa menghindar dari sebutir peluru jahanam itu.
Ia tak bisa lagi melihat Khuzaa, desa kelahirannya di perbatasan Israel - Palestina. Desa kecil, tempat warganya bertani menyambung hidupnya.
Sulung itu tak dapat lagi bersenda gurau dengan orang tua dan kelima adik-adiknya. Berkisah pada teman-temannya,  perang begitu kejam.

Ia tak bisa lagi membantu merawat orang-orang yang terluka akibat berbagai konfrontasi di jalur Gaza, ia perawat di garis depan, menyisakan jas putih paramedis kebanggaannya bersimbah darah mudanya.
Razan Ashraf al-Najjar mengembuskan nafas terakhirnya, Jumat, 1 Juni 2018. Ia menjadi warga Palestina, korban yang tewas ke-119 dalam tiga bulan terakhir di jalur Gaza, akibat kekerasan bersenjata tentara Israel.

Ibu dan ayahnya masih mengingat jelas,  sahur Jumat itu bersama Razan. Sahur dan Ramadan terakhir putri kebanggaan mereka. Mereka masih melihat senyum anak perempuanya itu, senyum terakhir yang diberikan dan menjadi kenangan tak terlupa sepanjang hayatnya. Mereka hanya dapat memeluk jas putih bersimbah darah itu, darah anak yang mereka cintai tak sudah-sudah.

Di rembang senja, jalur Gaza menjadi saksi, seorang bidadari ditembak tepat di jantungnya yang berdenyut penuh cinta pada sesama itu. Razan Ashraf al-Najjar berpulang, dijemput malaikat untuk direbahkan di surga.
Tak lama berselang,  azan maghrib berkumandang. Suaranya membelah jalur Gaza, mengantar Razan menemui penciptaNya.  Kemudian hening. Angin pun tak berani bergerak, ketika doa-doa tengah ditebarkan, untuk gadis muda yang ditembak petang itu.

Razan Ashraf al-Najjar. Dunia harus mengingat namanya.

#SAVEPALESTINE

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Razan, Bidadari Yang Ditembak..."

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus