Bocah Itu pun Tewas Ketika Antri Sembako di Monas



Deni J.A.

Ibu, maafkan aku.
Aku ke Monas, tak ijin ibu.
Aku ingin buat kejutan.
Pulang membawa beras (1)
Sejak lama aku sedih.
Kadang aku menangis.
Aku lihat ibu semakin susah
Walau ibu menyembunyikannya.
Aku tahu itu soal beras.
Sengaja aku makan sedikit saja.
Kadang cukup dua kali sehari.
Aku ingin membantu
dengan caraku sendiri.
Menghemat sembako.
Kemarin ada kupon.
pembagian beras di Monas.
Aku bahagia sekali.
Aku juga tak lapor ke Pak RT (2)
Aku ajak temanku,
Ia juga ingin buat kejutan
Hadiah Indomie untuk ibunya.
Aku 12 tahun,
Temanku 10 tahun,
Tapi, asyik,
Kecil- kecil sudah bisa dapat beras,
dapat indomie.
Gratis!
Kami jingkrak berpelukan.
Kami bayangkan betapa ibu akan senang.
Tapi di Monas ramai sekali, Ibu.
Aku di tengah kerumunan.
Badanku kecil.
Sesak nafasku.
Aku menangis memanggil namamu:
“Ibu…”
Tak ada yang peduli
Semua sibuk berebut beras
Semua sibuk ambil Indomie
Badanku lemas, Ibu.
Aku panggil lagi namamu;
Ibuuuuuuuuuu…
Aku pingsan (3).
Temanku lebih dulu pingsan.
Lalu,
Aku terbang ke udara.
Dari jauh kulihat badanku sendiri.
Kata orang aku sudah mati.
Temanku juga mati.
Ia terinjak- injak mereka yang antri (4)
Ampun Ibu,
Aku menangis sekeras-kerasnya
Maafkan aku.
Aku ingin buatmu bahagia.
Memberimu hadiah beras
Tapi bukan beras mengejutkanmu.
Aku malah tak lagi bisa memelukmu.
Ibu malah kehilanganku
Maafkan aku, Ibu
Maafkan aku
Tak bisa pulang membawa beras.

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Bocah Itu pun Tewas Ketika Antri Sembako di Monas"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus