Politik dalam Islam

politik islam

Oleh: Ani Hasibuan

Buka-buka medsos, saya baca obrolan di salah satu grup WA, topiknya tentang orang-orang yang (merasa) pintar yang cenderung anti politik dan melarang setiap anggota WA-nya bicara tentang politik.

Dalam  surat Al-Qasas. Isinya tentang perjuangan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS melawan tirani kaisar imperium Mesir, Fir’aun, sang musuh Allah. Di awal, Allah mengatakan bahwa Fir'aun adalah penguasa yang jahat, karena ia mengadu domba rakyatya untuk memperkokoh kekuasaannya.

Selanjutnya diceritakan bagaimana Nabi Musa AS, pria cadel yang sejak bayi diasuh oleh Fir’aun, melawan “bapak angkat”nya sendiri. Dan ini kisah yang sangat saya sukai.

Seorang pria cadel yang tak jarang ketakutan, berhasil menghabisi kekuasaan seorang kaisar super power, yg memiliki bala tentara yang super terlatih dan persenjataan perang yang lengkap. Dan bukan main senjata yang digunakan Musa AS untuk melawan segala kedigdayaan Fir’aun, apa itu? Yaitu: kekuatan mulut!

Door to door menawarkan konsep ketauhidan, memiliki informan yang bekerja di internal Fir’aun (salah seorg panglima Fir’aun membelot dan memihak pada Nabi Musa), menggunakan jasa juru bicara (Nabi Harun menjadi juru bicara Nabi Musa, sebab bicaranya tidak jelas, waktu bayi nabi Musa pernah makan bara api yang ditawarkan Fir’aun, sehingga lidahnya terbakar dan bicaranya menjadi cadel).

Apa sebetulnya yg dilakukan Nabi Musa di masa pemerintahan Fir’aun? Nabi Musa berpolitik! Melawan seorang kaisar, dengan lobby mulai dari tingkat rakyat jelata sampai panglima perang, menghadirkan penyusup, itu semua politik kan? Dan sepemahaman saya, hampir semua kisah Nabi-nabi adalah kisah perlawanan melawan tirani (kecuali Nabi Adam AS, mohon koreksi bila keliru).
Dan apa kegiatan para tiran?

Mereka menjauhkan manusia dari pemurnian penghambaan kepada Allah. Tiran di jaman Ibrahim AS memaksa rakyatnya menyembah patung-patung. Tiran di masa Luth AS memaksa rakyatnya menerima kelakuan LGBT bahkan menghukum rakyat yg menentang LGBT.

Tiran di masa Nabi Shaleh AS memaksa rakyatnya bertransaksi dengan riba dan mereka gemar mengurangi timbangan, dan seterusnya. Dan tiran yang paling “menggemaskan” adalah Fir’aun, yang secara eksplisit memaksa rakyatnya untuk menyembahnya, menjadikan Fir’aun mendapat gelar “musuh-KU” dari Allah SWT.

Kesimpulannya, nabi-nabi berpolitik. Lalu kenapa kita jadi anti? Kita yakin politik menjauhkan kita dari kekhusyukan shalat, masa? Rasulullah SAW itu politisi handal sekaligus panglima perang yg memiliki ketangkasan yang handal serta strategi perang yang jitu.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan bukti Rasulullah SAW adalah politisi ulung. Perang 12 kali beliau adalah bukti bahwa beliau adalah seorang panglima perang yang handal. Jadi kenapa masih anti pada politik? Indonesia ini dimerdekakan oleh perjuangan ulama, mereka berpolitik!!
Jadi kenapa masih anti pada politik?

Marilah kita jangan mau terbawa propaganda antek-antek musuh yang mengatakan bahwa politik adalah kotor.  Dia mengatakan itu untuk mengelabui kita, supaya kita lengah. Mengira kita akan aman-aman saja dan cukup hanya dengan sholat, mengaji, dan umrah!

No. Agama Islam bukan agama ritual belaka, keIslaman seseorang tidak dilihat dari keistiqamahannya dalam melakukan ritual. Islam itu agama sosial. Kesalihan seseorang diukur dari seberapa banyak waktunya dihabiskan untuk beramar ma'ruf nahi munkar.

Ingat kisah seorang saudagar yang sedang sakratul maut, saat malaikat Rakib dan Atid memperlihatkan catatan amalnya, timbangannya jatuh ke kiri, dosanya lebih banyak. Namun akhirnya, malaikat Rakib dan Atid menemukan satu catatan kebaikan, yang akhirnya membuat semua dosanya terhapus dan timbangan kebaikannya menjadi sangat berat.

Apa amal itu? Tangisan seorang ibu yang berterima kasih pada nya karena dia berikan makanan (dia sendiri belum makan, lalu dia tawarkan pada ibu dan anak2nya yang lapar). Bagaimana kita bisa berharap lepas dari riba kalau kita tidak berpolitik? Bagaimana kita bisa berharap syariah Islam dijalankan bagi kita pemeluk agama Islam klu kita anti pada politik dan menganggap politik adalah sesuatu yang berbau busuk dan menyengat?

Sekali lagi, jangan pernah terbawa propaganda antek-antek musuh yang mencoba mengubah mindset kita. Ingat, Islam mengajarkan kita untuk hablum minannaas dan hablum minallaah, ritual HARUS diaplikasikan dalam kegiatan sosial (amar ma’ruf nahi munkar).

Sekian tahun umat Islam di negeri ini dijauhkan dari politik, mulai dari cara halus melalui ceramah para kyai, sampai cara kasar mempertontonkan politisi muslim yang (terduga) korupsi seolah-olah tidak ada yang non muslim yang korupsi, dan mereka selalu mengait-ngaitkan dengan ajaran Islam.

Tapi kalau politisi non muslim yang korupsi, mereka buru-buru menutup berita, dan kalau ada yang coba-coba mengkaitkan dengan agama, mereka buru-buru berteriak “Tidak ada hubungannya dengan agama!”.

Ayo saudaraku di jalan Allah, jangan anti pada politik. Justru, 87% umat Islam ini harus berpolitik. Kita harus mampu menentukan kemana rakyat ini harus dibawa. Kita tidak bleh menyerah pada tiran. Sebagaimana para Nabi berjuang melawan tiran, kita pun kini beramai2 melawan tiran yang hendak menjauhkan kita dari Allah.

Politik bukan tabu, politik itu suatu komponen kehidupan, kalau dia tak ada, hidup menjadi tak jelas mau bagaimana? Jangan ragu utk bicara soal politik, jangan minder juga, sebagaimana kita tak cerdas, demikian juga para politisi yang saat ini ada, jadi kita punya wewenang informal utk bicara kan?

Semoga kita ke depan lebih aware dan lebih melek politik. Cukuplah tiran2 berkuasa, mari kita ciptakan suasana kondusif sehingga muncul. Pemimpin yang shaiddiq, amanah, tabliq dan fatanah. 
Allahu 'alam. (*)

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Politik dalam Islam"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus