Good Leader


By : Etty Sunanti
The Owner of ESP moving in all fields Islamic Science

Seorang pemimpin itu fokus kepada *Problem Solving* bukan kepada mempertahankan posisi. Jika dia ribut dengan mempertahankan posisi, maka lambat laun jatuhlah dia. Bisa jadi tetap bertahan pada posisi jabatan, tetapi dia tidak memiliki wibawa dan ruh.

Seorang pemimpin yang baik, mampu mencari peluang terbaik untuk menjalin kerjasama. Jika seorang pemimpin itu oportunis dan pendek akal, maka dia suka berjejaring dengan sekelompok polesan saja. Bukan pada kelompok yang berkualitas.

Kita ambil contoh, Gubernur DKI Jakarta yang luar biasa. Bapak Anies Baswedan, beliau menangkap jejaring kerjasama dengan negara yang *masih* memiliki POWER KABAIKAN, misal berjejaring dengan Maroko, Casablanca, Turki, dan lain sebagainya...
Bagi yang cupet nalar, dan berjiwa gersang, pasti yang dilihat negara semacam Tiongkok semata.Padahal persoalan kita itu, adalah kemampuan memberdayakan SDM, bukan menjadikan keberpihakan kepada sekelompok manusia oportunis yang egois.

Nah, dari sini kita membutuhkan pemimpin yang memiliki Aqidah, Akhlaq dan Ibadah yang bagus. Tentu saja, dengan kualitas lifeskill dan ilmu yang mumpuni.

Maka dampak dari seorang pemimpin yang belum memiliki jiwa pejuang. Belum memiliki jiwa substansi dari JABATAN. Maka mereka tidak bisa meningkatkan kualitas SDM masyarakat. Tidak mempunyai daya kreatifitas serta improvisasi. Yang difikirkan masih dirinya sendiri, bukan memikirkan anggotanya. Apalagi yang beda golongannya, malah musykil.

Dalam buku "Kreatif Berfikir" yang di tulis oleh Jamal Madhi, penerbit Al Jadid. Beliau menyatakan, Berfikir itu adalah Manhaj Kehidupan. Ada 9 aspek dalam berfikir.
1. Berfikir adalah kemampuan
2. Berfikir adalah pengetahuan
3. Berfikir itu beradaptasi
4. Berfikir itu masa depan
5. Berfikir adalah jalan hidup
6. Berfikir itu sistem
7. Berfikir itu pandangan
8. Berfikir itu kekuatan
9. Berfikir adalah pengajaran

Maka menurut hemat saya, seorang pemimpin itu harus benar-benar menjadi ^thinker^ yang handal. Bukan menjadi pupuk bawang (bahasa Jawa : jadi pelengkap yang tiada berguna )

Terlebih sekelas Menteri apalagi Presiden, maka kualitasnya harus benar-benar di atas rata-rata masyarakat umum.

Jangankan sekelas Menteri, sekelas pak RT dan pak RW seyogyanya harus mempuyai kemampuan di atas rata-rata warga kampungnya.

Tetapi lagi-lagi, kenyataan memang tidak seperti yang kita bayangkan. Seringkali, jabatan di masyarakat terjadi ketika ada unsur negatif. Misalkan sebagai berikut :
1. Tidak ada yang mau, ya sudah-lah yang mau siapa, silahkan maju.
2. Seseorang yang di angkat, karena faktor bisa di politisir, bisa di setir, bisa di manfaatkan kepentingan tertentu.
3. Ambisius pribadi, karena mencari popularitas.
4. Orientasi bisnis dan uang. Jika bisa menduduki jabatan tersebut, akan menguntungkan secara pribadi.

Jika yang terjadi semacam itu, bagaimana mungkin fungsi ^Good Leader^ akan berjalan dengan baik ?

Saya amati, yang terjadi dalam perkembangan politik di Indonesia. Bahkan dalam keorgansisasian manapun. Yang ada, para leader tidak mengindahkan perbaikan internal. Yang di fikirkan selalu "Nafsu Syahwat" yaitu nafsu kepentingan pribadi.

Terkadang, saya berfikir, apakah mereka itu normal atau tidak ya ? Mengapa bisa seberani dan senekat itu, tanpa mempunyai rasa malu.

Dr. Ibrahim Elfiki, maestro Motivator Muslim Dunia dari Kanada, menyatakan dalam bukunya  ^TERAPI BERFIKIR POSITIF^ ada 7 aspek kehidupan penting. Agar kehidupan menjadi normal dan seimbang.
1. Aspek spiritual
2. Aspek kesehatan
3. Aspek kepribadian
4. Aspek keluarga
5. Aspek sosial
6. Aspek profesi
7. Aspek material

Betapa Dr. Ibrahim Elfiki, meletakkan aspek spiritual itu nomor 1, dan aspek material itu nomor 7. Aspek spiritual menurut beliau adalah, cintanya manusia kepada Allah Subhanahu wata'alla dan murah hati.

Kalau ternyata menjadi Leader, dan ternyata aspek spiritual tidak ada. Maka yang terjadi dia akan menjadi diktator. Tidak punya empati. Dan tidak punya rasa malu.

Mencintai Allah, seharusnyalah Allah sebagai prioritas nomor 1, bukan yang lain-lain..
1. Niat karena Allah
2. Tujuan karena Allah
3. Cara juga cara Illahiyah

Semoga, siapapun yang menjadi pemimpin atau menduduki porsi ketua/kepala. Di sekup apapun, bisa amanah. Aamiin Allahumma Aamiin.

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Good Leader"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus