Biografi KH Abdul Halim (PUI)

biografi kh abdul halim

TERLAHIR dengan nama Otong Syatori pada 26 Juni 1887 di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Ia bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya seorang penghulu di Jatiwangi bernama K.H. Muhammad Iskandar dan ibunya bernama Nyi Hj. Siti Mutmainnah.

Sambil menuntut ilmu, beliau mencari nafkah dengan berdagang yang kelak ikut membentuk pemikirannya dalam memperbaiki sistem ekonomi rakyat. Saat berusia 22 tahun, Abdul Halim berangkat menunaikan ibdah haji. Tak semata beribadah, beliau juga menuntut ilmu pada ulama terkemuka di Tanah Suci.

Di Mekah, Abdul Halim berguru kepada ulama-ulama besar di antaranya Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama asal Indonesia yang menetap di Mekah dan menjadi ulama besar sekaligus menjadi Imam di Masjidil Haram. 

Selama menuntut ilmu di Mekkah, Kiai Halim banyak bergaul dengan K.H. Mas Mansur yang kelak menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang merupakan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama dan Rais Am Syuriyah (Ketua Umum Dewan Syuro) Pengurus Besar organisasi tersebut setelah Kiai Hasjim Asy'ari meninggal pada tahun 1947.

Selain belajar langsung kepada Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Kiai Halim juga mempelajari kitab-kitab para ulama lainnya, seperti kitab karya Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridlo, dan ulama pembaharu lainnya. 

Selain itu Kiai Halim juga banyak membaca majalah al-Urwatul Wutsqo maupun al-Manar yang membahas tentang pemikiran kedua ulama tersebut. Setelah dirasa memadai, Abdul Halim kembali ke Tanah Air pada tahun 1911. Sepulang dari berhaji, dan atas pemberian nama oleh seorang syaikh di Makkah beliau berganti nama menjadi Abdul Halim Iskandar.

Ditahun yang sama, selangkah demi selangkah Abdul Halim mendirikan pesantren. Nama pesantren sederhana yang berdiri di atas tanah mertuanya, K.H. Muhammad Ilyas, ini bernama Majelis Ilmu. Perlahan lahan, pesantren ini terus berkembang sehingga mampu membangun asrama untuk para santri nya. 

Satu tahun kemudian, beliau mendirikan Hayatul Qulub. Lembaga itu bertujuan untuk mengembangkan ide pembaruan pendidikan, pengembangan sosial ekonomi dan kemasyarakatan. Anggotanya terdiri atas tokoh masyarakat, santri, pedagang, dan petani.

Abdul Halim menyusun langkah-langkah perbaikannya yang meliputi delapan bidang perbaikan yang disebut dengan Islah as-tsamaniyah yang mencakup Islah al-aqidah (perbaikan aqidah), Islah ai ibadah (perbaikan ¡badah), Islah at tarbiyah (perbaikan pendidikan), Islah al-a’ilah (perbaikan keluarga), islah al-addah (perbaikan kebiasaan), islah al mujtama’ (perbaikan masyarakat), Islah al-Iqtishad (perbaikan perekonomian), dan Islah al-ummah (perbaikan hubungan umat dan tolong-menolong). 

Semuanya dilaksanakan secara berkesinambungan. Keberadaannya dapat memperbaiki keadaan masyarakat kecil Itu yang membuat pemerintah kolonial Belanda mulai menaruh curiga. Secara diam-diam pemerintah mengutus polisi rahasia (Politiek Inlichtingen Dienst/PID) untuk mengawasi Abdul Halim dan organisasinya.

Tahun 1915, Hayatul Qulub dibubarkan. Penjajah Belanda menganggap organisasi tersebut menjadi penyebab terjadinya beberapa kerusuhan (terutama antara pribumi dan China). Meski dibubarkan, kegiatannya tetap berjalan. Pada 16 Mei 1916, Abdul Halim mendirikan Jam’iyah l’anah al-Muta’alimin sebagai upaya terus mengembangkan pendidikan yang kembali dibubarkan Belanda. Abdul Halim tak jera. 

Pada tahun Itu juga, ia mendirikan Persyarikatan Ulama dengan bantuan H.O.S. Cokroaminoto. Organisasi itu diakui oleh pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Desember 1917. Persyarikatan Ulama terus berkembang. Pada 1924, organisasi ini sudah tersebar ke seluruh Jawa dan Madura. Tahun 1937, menyebar ke seluruh Indonesia.

Abdul Halim adalah seorang berpikiran maju dan cerdas. Beliau sadar semua upayanya membutuhkan biaya. Untuk itu, beliau mengembangkan beragam usaha, mulai dari pertanian, percetakan, dan pabrik tenun. 

Para guru di pesantrennya harus ikut menanamkan saham agar usaha bersama tersebut semakin berkembang. Yayasan yatim piatu pun ikut didirikan atas prakarsanya. Ia juga mendirikan pesantren Santi Asromo (bahasa jawa kuno yang berarti tempat sepi, sunyi) di Majalengka pada April 1932 yang memberikan bekal keterampilan kepada santri agar kelak mampu hidup mandiri.

Abdul Halim aktif berperan menentang pemerintahan kolonial. Pada 1912, ia menjadi pimpinan Serikat Islam cabang Majalengka. Pada 1928, ia diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama yang didirikan Sarekat Islam bersama K.H. M. Anwaruddin dari Rembang dan K.H. Abdullah Siradj dari Yogyakarta. Ia juga menjadi anggota pengurus MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang didirikan pada 1937 di Surabaya.

Pada 1943, setelah MIAI berganti menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), ia menjadi salah seorang pengurusnya. Ia juga termasuk salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945, anggota Komite Nasional indonesia Pusat (KNIP), dan anggota Konstituante pada 1955. 

Ketika terjadi agresi Belanda pada 1947, beliau ikut berjuang dan terpaksa mundur bersama rakyat dan tentara ke pedalaman untuk menyusun strategi perlawanan. Ia juga menentang keras didirikannya Negara Pasundan oleh Belanda pada 1948.

Pada 5 April tahun 1952, POI mengadakan fusi dengan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) yang didirikan oleh K.H. Ahmad Sanusi menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) dan Abdul Halim diangkat sebagai ketua pertamanya.

Tempat/Tgl. Lahir :  Ciborelang, Majalengka, 26 Juni 1887
Tempat/Tgl. Wafat :  Santi Asromo, Majalengka, 6 Mei 1962
SK Presiden : Keppres No. 41/TK/2008, Tgl. 6 November 2008
Gelar : Pahlawan Nasional

Dapatkan info terkini:

1 Response to "Biografi KH Abdul Halim (PUI)"

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus