Belajar Lagi dari Anis Matta

belajar dari anis matta


Oleh: Nandang Burhanudin

(1). Maaf. Bagi yang kurang berkenan dengan pembahasan Anis Matta. Silahkan tutup mata. Tapi jangan menutup mata pencaharian orang. Juga tidak perlu menjadi mata-mata.

(2). Saya sekedar ingin berbagi cerita. Ada yang bilang hutang budi. Tidak juga sich. Sebab "Budi" yang pernah dihutangi, dibantu, dihajikan, dijadikan pejabat pada melupakan Anis Matta saat dianggap tidak berkuasa.

(3). Anis Matta - jika ditinjau dari nasihat Imam AlBanna- tengah belajar mengimplementasikan konsep: menjadi syaikh, kawan, qudwah, orangtua, murobbi bagi setiap orang yang berada di dekatnya.

(4)

‏في عيون الأخبار لابن قتيبة عن أحد أهل الحكمة :
أصحابك طبقات :
١. طبقة كالغذاء لا غنى لك عنه.
٢. طبقة كالدواء تحتاج إليه أحيانا.
٣. طبقة كالداء في اجتنابه سلامة.

(5). Mirip dengan levelisasi persahabatan dalam Kitab 'Uyun AlAkhbar, seorang ahli hikmah menasihati;  sifat pribadi temanmu ada tiga level. Perhatikan dimana level kita saat ini.

(6). Level pertama:  tak ubahnya bagaikan asupan makanan. Di level ini, siapapun akan selalu membutuhkan. Adanya disyukuri. Tiadanya dicari. Namanya asupan harus sesuai kebutuhan. Over dilarang.

(7). Level kedua: tak ubahnya bagaikan obat. Dicari dan rela membayar mahal saat membutuhkannya. Sayangnya bukan saat sehat, tapi ketika dirimu berbaring sakit. Obat pun ada resep dan dosisnya.

(8). Level ketiga: tak ubahnya bagaikan penyakit. Menjauhi tipe demikian justru akan membawa keselamatan. Penyakit yang merusak luar dalam. Hadirnya adalah wabah. Dekatnya tak ubahnya musibah. Penyakit hanya bertemu dengan penyakit.

(9). Anis Matta -semoga istiqomah- selalu ringan membantu kawan. Mudah memberi testimoni (tazkiyah). Seringkali gampang membuka zhann yang baik, kepada siapapun. Malah AM orang yang paling khusyuk menunggui Almarhum ust. Taufiq Ridha, hingga ke liang lahat terakhir.

(10). Biasanya orang lain agak sulit memberikan testimoni positif untuk Anis Matta. Entah karena sulit memahami atau karena memang level orang lain itu hanya level obat atau ksrena berpenyakit.

(11). Wajar banyak yang menuduh, AM menebar wala syakhshi. Sebenarnya bukan. Hanya banyak yang merasa aman, nyaman, bertambah ilmu, pengalaman dan iman ketika berteman.

(12). Apalagi misi Anis Matta meningkatkan kapasitas kawan, terutama dalam meningkatkan level dzauq hadhori/cita rasa peradaban.  Tidak lagi level lokal nasional, tapi global. Tapi kok bisa, AM dituduh menebar kebencian? Entahlah.... (*)

Dapatkan info terkini:

0 Response to "Belajar Lagi dari Anis Matta"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus