#ILCZinaLGBT : Dok, Pacar Saya ada Empat, Satu Perempuan dan Tiga Pria

prorakjat.com - dr Dewi Inong Irana, dokter spesialis kulit dan kelamin  yang ikut menjadi pembicara di ILC TV One pada Selasa (19/12/2017) mengungkapkan fakta mengerikan prilaku LGBT.
dokter spesialis kulit dan kelamin ungkap bahaya lgbt
Dewi Inong Irana. Image by twitter.com
Sebelum mengungkap fakta tersebut, ia menceritakan dengan runtut perjalananya berkeliling ke lima daerah untuk ikut mengatasi kasus HIV/AIDS. Ia mengawalinya, saat bertugas di lokalisasi WTS kabupaten Madiun tahun 1993 yang saat itu baru menemukan kasus HIV/AIDS.

Kasus serupa, ia temukan saat menjadi dokter untuk LSM di daerah Ancol Jakarta Utara. Tepatnya, di daerah kumuh yang terkenal rumah kardus. Rumah tersebut merupakan tempat WTS, waria dan gay berkumpul.

Selama tiga tahun ia menangani   lima ratusan pasien. Selain itu, ia juga memberikan keterampilan, pencerahan agama serta psikologi. Menurutnya, penularan HIV/AIDS  dari pelaku LGBT jarang sekali disinggung. Padahal, prilaku s*ksual LGBT paling beresiko tertular HIV/AIDS .

“Berdasarkan konsultasi dengan  guru saya, Prof dr Sjaiful Fahmi Daili Sp.KK(K), guru besar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin UI,  banyak anak-anak belum menikah sudah berzina. Agar tetap perawan, mereka melakukan hubungan s*ksualnya melalui dubur,” ujar Dewi.

Padahal, kata dia,prilaku tersebut merupakan penularan  HIV/AIDS  yang tertinggi. Disusul, hubungan s*ksual melalui kelamin ke kelamin, kelamin ke mulut  serta kelamin dengan alat. Jadi, bukan hanya hubungan kelamin dengan kelamin saja  yang bisa menularkan infeksi seksual, ini penting sekali.

Ia juga mengungkapkan, jumlah kasus HIV/AIDS di indonesia hingga maret 2017 meningkat sangat pesat. Berdasarkan  data dari Dirjen Penyakit Menular Kemenkes RI per triwulan pertama saja sudah ada 10.376 kasus HIV dan AIDS 673 orang.” Kemunginan terbesarnya, datanya akan terus menanjak, dibanding tahun 2016  yang jumlah kasusnya ada  41.250 HIV dan AIDS 7.491 orang,” ujarnya.

Kenapa kasus HIV/AIDS datanya terus naik? Karena,  kata dia, penyakit tersebut sulit diobati. Efeknya, penerus bangsa hancur karena bayi-bayi  HIV/AIDS  dan  menciptakan economic burden, yakni menghabiskan uang negara.

Kok bisa menghabiskan uang Negara? Karena, penderita HIV/AIDS harus mnium obat seumur hidup ditanggung oleh negara. Biayanya Rp240 ribu hingga Rp 500 ribu per orang per bulan seumur hidup.

“Bayangkan kalau orang ini (penderita HIV/AIDS, red) hidup lima puluh tahun, satu tahun berarti negera harus mengeluarkan uang Rp6 juta per pasien. Tahun ini saja, negara sudah mengeluarkan biaya Rp1 triliun,” ungkapnya.

Mirisnya, kata dia, berdasarkan presentasi komulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan, rata-rata berusia 20 sampai 40 tahun. Artinya, saat ini penderita HIV/AIDS di Indonesia diderita usia produktif . Bayangkan,  8 jam kerja hilang terbuang sia-sia.

 Kenapa kita ribut prilaku LGBT, karena perilaku s*ksual LGBT terutama Lelaki S*ks Lelaki (LSL) dan biseksual beresiko tertinggi tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS.

“Berdasarkan pasien saya yang sudah terkena HIV/AIDS, mereka tidak tahu bahwa perilaku s*ksual LGBT beresiko tertinggi tertular  HIV/AIDS,” ujarnya.

Hal ini, kata dia, singkron dengan data yang dikeluarkan Berdasarkan Departemen Kesehatan Amerika. Di Amerika, sebanyak dua persen gay dari populasi 55 persen penderita AIDS. Sayangnya, di Indonesia belum memiliki data jumlah gay dan bis*ksual. Namun, dari data yang ada , di Indonesia ada 0,5 persen penderita  HIV AIDS baru.

“Banyak yang bilang mereka kenapa disalahkan, lihat anak di Indonesia, dari kelompok  LSL atau gay 25 persenya sudah terkena HIV/AIDS, dari kalangan waria juga seperti itu. Tinggi sekali proporsinya dari kalangan mereka dibandingkan dengan warga indonesia yang hanya 0,5 persen,” bebernya.

Jadi, kata Dewi, kalau dihitung-hitung LSL 60 kali lebih mudah terkena HIV/AIDS. Apalagi, satu dari empat LSL di Indonesia saat ini sudah terinfeksi HIV/AIDS. Ia juga menceritakan saat kedatangan pasienya yang  masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

“Baru dua bulan lalu, pasien saya terbaru seorang mahasiswa umur 21 tahun, dia dari daerah. Saat ia datang ke tempat praktek saya, saya pastikan ia terkena penyakit sipilis stadium dua,” ungkapnya.  Padahal, kata dia, penyakit tersebut sempat hilang, kini di Indonesia kasusnya kembali naik .

Saya tanya dia, apakah anda sudah pernah berhubungan s*ks dengan perempuan? Dia ngaku “Dok, pacar saya empat, satu perempuan dan tiga laki-laki”. Yang perempuan sengaja tidak apa-apakan. Karena dirinya mencari berhubungan s*ksual yang aman-aman saja.

Jadi, kata dia, sekarang rata-rata pengetahuan anak muda  atau orang awam bahwa prilaku LGBT itu aman. Padahal, kenyataanya, penularan yang tertinggi dan tergampang tertular dan menularkan HIV/AIDS.

Menurutnya, berhubung untuk penyakit tidak bisa di-cover BPJS Kesehatan, maka mahasiswa tersebut meminta diskon. Biayanya, sekali suntik Rp700 ribu.  Berhubung, pasien tersebut tak memiliki uang cukup, akhirnya Dewi memberi potongan. “Saya korting jadi Rp500 ribu,” ujarnya.

Melihat makin banyaknya kasus serupa, ia mempertanyakan para pembela LGBT yang mengatasnamakan HAM. “Pertanyaanya, siapa yang akan menanggung biaya mereka? Kemana yang sering bicara HAM? ,” tanya sambil menahan emosi.

Kemudia, Dewi melanjutkan cerita pasienya. Kepada Dewi pasien tersebut juga mengaku memiliki tiga pacar laki-laki yang juga ter kena sipilis dan HIV. Kalau pacarnya punya pacar lagi, kebayakan kan kasus ini mirip MLM sipilis atau HIV/AIDS. “Inilah bagian kecil dari efek berzina,” katanya.

Kasus-kasus tersebut, jelas Dewi, ibarat puncak gunung es.   Karena, kita belum tahu data yang sebenarnya di Indonesia. Meski demikian, Kemenkes RI menargetkan 20 juta warga Indonesia pada tahun 2020 bisa diperiksa HIV/AIDS.

“Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan pemerintah. Padaha,  kita ini sedang butuh biaya untuk pembangunan. Jadi, sudah sangat jelas, efek s*ks bebas termasuk cabul sesama jenis sama dengan infeksi menular s*ksual HIV/AIDS membuat negara miskin, kualitas manusia dan ketahanan nasional hancur,” ujar Dewi.

Sebelum menutup jadi pembicara di ILC, pihaknya menyampaikan pesan dari  para dokter spesialis kulit Indonesia, bila anda termasuk berpilaku s*ksual beresiko tinggi yakni LGBT, LSL Bis*ksual, PSK, berganti-ganti pasangan s*ksual lakulanlah skrining pemeriksaan segera ke puskesmas atau RSU terdekat.

“Di Puskemas pemeriksaan daerah dan skrining gratis. Sementara di RS/RSUD spesialistik, program JKN atau swadana. Mari konsultasikan melalui website perdoski.org. LGBT yang ingin didampingi kembali ke fitri konsultasi gratis ke kontak Peduli Sahabat 081295777057,” pungkasnya. (*) Berikut video lengkapnya:

Dapatkan info terkini:

0 Response to "#ILCZinaLGBT : Dok, Pacar Saya ada Empat, Satu Perempuan dan Tiga Pria"

Posting Komentar

Komentar mengandung spam, p*rn*grafi, asusila, provokasi dan link aktif akan dihapus